Durasi Hidup Di Dunia Amat Terbatas

0
77

Mensiasati waktu dan memaksimalkan seluruh daya serta upaya untuk mendapatkan keberkahan dalam aktivitas tampaknya suatu agenda yang harus benar-benar dipersiapkan pada saat ini. Pasalnya kian hari waktu terasa semakin cepat berlalu. Baru saja rasanya liburan akhir pekan bersama keluarga kini hari Ahad sudah di depan mata. Baru saja rasanya sholat Subuh dilaksanakan, kini Maghrib telah menyongsong senja. Bila tidak berhati-hati, waktu dapat menjebak langkah-langkah si penyia-nyia waktu. Pentingnya masalah waktu ini sangat diperhatikan oleh Islam sebagai agama penyelamat.

Allâh Ta’ala telah bersumpah dengan menyebut masa dalam firman-Nya:

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.”

(QS. Al-‘Ashr [103]: 1-3).

Ini menunjukkan bahwa pentingnya waktu hingga Allah bersumpah dengannya. Waktu adalah anugerah yang Allah berikan untuk manusia sehingga manusia dapat menggunakannya untuk kebaikan dirinya. Waktu pula adalah sebagai ujian bagi manusia yang apabila ia menyia-nyiakannya ia akan celaka.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang.” [HR. Bukhari no. 6412].

Ibnul Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata,

“Menyia-nyiakan waktu lebih berbahaya dari kematian, karena menyia-nyiakan waktu akan memutuskanmu dari Allah dan negeri akhirat, sedangkan kematian hanya memutuskan dirimu dari dunia dan penduduknya.” [Al-Fawaid, hal. 44].

Ia juga berkata sebagai berikut,

“Jika dirimu tidak disibukkan dengan hal-hal yang baik, pasti akan disibukkan dengan hal-hal yang batil.” [Al Jawabul Kaafi, hal. 156].

Maka urgensi menjaga waktu agar tetap diisi oleh keta’atan-keta’atan dan kegiatan yang bermanfaat adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Karena waktu dapat mencelakakan seseorang yang menghabiskan masa hidupnya untuk melakukan kesia-siaan. Dan perlu untuk disadari bahwa waktu yang telah berlalu itu tidak akan pernah kembali. Maka apa perbuatan-perbuatan yang telah kita lakukan baik buruknya adalah kita yang akan menanggung dan merasakan akibatnya. Apabila sang pemutus kenikmatan (kematian) telah tiba maka tak ada lagi upaya yang dapat dilakukan untuk memperbaiki semua kelalaian yang telah berlalu.

Sejatinyalah manusia harus selalu waspada dan introspeksi diri. Melakukan berbagai macam upaya dengan sekuat tenaga melawan hasrat untuk melakukan hal yang sia-sia dalam hidup. Perbanyak melakukan amal sholeh yang dapat menghantarkan kita pada kejayaan dan kebahagiaan yang kekal abadi di akhirat kelak.

Sungguh durasi hidup di dunia amat terbatas. Manusia tidak mengetahui kapan berakhirnya waktu yang diberikan untuknya. Oleh karena itu Allâh Ta’ala memerintahkan manusia untuk bersegera dan berlomba dalam ketaatan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga kemudian memerintahkan agar bersegera melaksanakan amal-amal sholih. Para ulama memperingatkan agar seseorang tidak menunda-nunda amalan.

Al-Hasan berkata:

“Wahai anak Adam, janganlah engkau menunda-nunda (amalan-amalan), karena engkau memiliki kesempatan pada hari ini, adapun besok pagi belum tentu engkau memilikinya. Jika engkau bertemu besok hari, maka lakukanlah pada esok hari itu sebagaimana engkau lakukan pada hari ini. Jika engkau tidak bertemu esok hari, engkau tidak akan menyesali sikapmu yang menyia-nyiakan hari ini.”

Manusia harus selalu melakukan ketaatan, namun ini bukan berarti manusia tidak boleh bersenang-senang dengan perkara yang Allâh ijinkan di dunia ini, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

“Demi Allâh, sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut dan paling takwa di antara kamu kepada Allâh, tetapi aku berpuasa dan berbuka, shalat (malam) dan tidur, dan aku menikahi wanita-wanita. Barangsiapa membenci sunnahku, maka ia bukan dariku. [HR al-Bukhari, no. 4776; Muslim, no. 1401].

Apabila kita benar-benar memahami urgensi waktu terhadap kehidupan, maka pastinya kita akan betul-betul mengatur penggunaan waktu tersebut hingga menjadi investasi amal yang akan menyelamatkan kita kelak di hari pertanggungjawaban.

✏️ Ahmad Daud

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here