Mengingat Kasus Penusukan Syekh Ali Jaber dan Ada yang Lebih Menusuk daripada Itu!

0
248
cover-penusukan-syekh-ali-jaber

Tanggal 13 September 2020, kiranya menjadi hari yang masih kita ingat. Pada hari itulah, terjadi penusukan Syekh Ali Jaber. Beliau ditusuk oleh seorang laki-laki saat memberikan ceramah di Masjid Falahudiin, Kelurahan Sukajawa, Kecamatan Tanjung Karang Barat (TKB), Bandarlampung.

Dalam tulisan ini, tidak akan banyak dibahas tentang kasus penusukan Syekh Ali Jaber tersebut. Biarlah aparat kepolisian yang melakukan pengusutan. Kabar apakah si pelaku mengalami gangguan kejiwaan atau tidak, ini juga diserahkan saja kepada ahlinya. Yang akan dibahas adalah tentang tusuk-menusuk yang lain. Lho, apa itu?

Tusukan Positif

penusukan-syekh-ali-jaber

Pada dasarnya, seorang dai itu membawakan dakwah memang bermacam-macam. Dalam satu kali ceramah saja, bisa memaparkan lebih dari satu masalah kok. Seorang ustaz muda pernah bercerita bahwa ketika Ustaz Firanda memberikan ta’lim tentang siroh nabawiyah, ujung-ujungnya bisa menyerempet poligami lho! Pantas, ustaz teman saya tersebut bercerita sambil tertawa. Tahu sendiri ‘kan alasannya tertawa?

Baca Juga: Tak Pernah Bosan

Materi-materi dari seorang ustaz bisa menyesuaikan dengan keinginan jamaah atau dari ustaz itu sendiri. Ketika suatu kelompok atau majelis ta’lim meminta seorang pendakwah untuk memberikan ceramah, bisa request.

Contohnya: keutamaan sholat berjamaah di masjid. Bagi majelis ta’lim ibu-ibu, boleh meminta materi tentang membahagiakan suami, membuat suami setia, betah di rumah, lalu tentang mendidik anak dan lain sebagainya.

Kelompok remaja masjid biasanya lebih tertarik dengan materi tentang cinta yang tidak halal, pacaran, sifat kegalauan, motivasi belajar, hubungan dengan orang tua, kenakalan remaja dan semacamnya. Mantap juga, sejak muda, mereka sudah dekat dengan ilmu syar’i. Hal itu Insya Allah jadi bekal masa depan mereka.

Apakah Merasa?

merasa-penusukan-syekh-ali-jaber

Ketika melihat dan mendengar sebuah ceramah ustaz, apakah Anda merasakan yang berbeda begitu? Contoh: mengungkapkan tentang kesyirikan. Disinggung tentang bahayanya syirik, dosa sangat besar, bisa mengantarkan kepada kekafiran, dibenci Allah dan rasul-Nya, padahal bisa jadi di antara Anda pernah melakukannya karena dahulunya tidak tahu, jelas ceramah tersebut akan menusuk Anda.

Meskipun namanya menusuk, itu adalah tusukan yang positif. Sifatnya bagus. Baik-baik saja. Dan, bisa menjadi motivasi yang luar biasa bagi kita untuk menghindari perbuatan syirik tersebut. Mungkin dahulu kita cuma ikut-ikutan, eh, begitu sudah tahu ilmunya, maka kita jadi paham. Kalau sudah demikian, coba dong sampaikan ke orang yang belum tahu.

Tusukan yang lain, ketika ada pemaparan ustaz tentang menikah. Nah, ini perkara yang menjadi kegalauan banyak orang, baik yang belum pernah maupun yang sudah, lho?!

Menikah adalah ibadah yang sesuai dengan hawa nafsu. Artinya, hawa nafsu manusia itu memang tidak bisa dihilangkan sama sekali. Yang perlu dilakukan adalah menempatkannya sesuai syariat Islam. Nah, menikah adalah jalan terbaiknya.

Dalam ilmu tentang menikah tersebut, ada yang mungkin sudah tahu banyak, tetapi tetap tertusuk hatinya. Ingin sekali menikah, tetapi memang belum sanggup, belum mampu, belum bisa. Caranya bagaimana dong? Sementara bully masih terus terjadi, bahkan di kalangan orang terdekat. Makin tertusuk deh.

Baca Juga: Panah-panah Syaitan

Jika ilmu yang kita dapatkan dari para ustaz berupa kebaikan, maka Insya Allah itu tusukan yang bagus. Menjadikan kita pribadi yang lebih baik daripada sebelumnya. Menyinggung keutamaan sholat berjamaah di masjid. Selama pelaksanaannya sesuai dengan protokol kesehatan covid-19, maka tidak apa-apa untuk kita sholat berjamaah di rumah Allah.

Ilmu yang membuat kita jadi merenung, iya juga ya, selama ini saya telah salah, harus begini, tidak boleh begitu, itu juga bagus. Selama ini kita berada di jalan yang salah, ada yang mengingatkan dengan tusukannya. Alhamdulillah, bila kita jadi orang yang lebih beriman dan bertakwa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Tusukan Negatif

bahaya-penusukan-syekh-ali-jaber

Ada positif, ada pula negatif. Hidup memang seperti itu, selalu ada dua sisi, kecuali pada pelajaran Matematika yang menjadi tiga, karena bentuknya segitiga sama sisi.

Tusukan yang negatif ini menjadi antitesis, wah bahasanya, bagi kita dan dakwah ini. Contohnya apa itu? Kita bisa melihat pada kasus penusukan Syekh Ali Jaber. Ada sebuah status di Facebook yang menyebut bahwa Syekh Ali Jaber adalah ulama su’ atau ulama buruk. Subhanallah. Betapa kasar lisan dan tulisannya!

Meskipun beliau mungkin punya pendapat atau pemahaman yang berbeda dengan si pembuat status, tetapi sungguh tidak pantas mencela seorang muslim dengan sebutan seperti itu. Apalagi beliau adalah seorang hafidz, penghafal Al-Qur’an, termasuk keluarga Allah di muka bumi. Hanya karena pendapat yang berbeda, langsung celaan muncul dengan mudahnya.

Jelas hal itu adalah tusukan yang sangat negatif. Bisa terjadi, pastilah ada pemicunya dan hem, ada yang mengajari. Siapa lagi kalau bukan gurunya? Atau ulama yang dia contoh. Guru atau ulamanya yang sering mengucapkan tuduhan kasar dan tidak berdasar kepada saudaranya, sesama kaum muslimin.

Bahkan, dalam sebuah video dari Ustaz Dr. Firanda, ada yang bertanya, bolehkah memberikan donasi kepada kaum muslimin di Palestina? Pertanyaan yang sebenarnya tidak perlu ditanyakan, karena mereka itu manusia juga, termasuk kaum muslimin pula.

Namun, begitulah sebagian saudara kita yang tidak mau menolong Palestina karena menganggap mereka Ikhwanul Muslimin, organisasi yang dicela oleh saudara kita tersebut. Padahal, orang Palestina terbunuh, terluka, dirampas harta bendanya, hidupnya jadi terganggu, dikecam ketakutan, kekhawatiran akan terbunuh, masih juga tidak mau dibantu hanya karena manhaj yang berbeda? Subhanallah.

Baca Juga: Tadabbur Al-Qur’an

Masih dalam video Ustaz Dr. Firanda, ketika kejadian gempa bumi di Jogja, ada yang ingin menolong, tetapi harus ahlus sunnah. Saat melihat daftarnya, di suatu daerah yang kena gempa tersebut, ternyata yang dikatakan ahlus sunnah itu cuma enam orang! Lainnya? Dianggap ahlul bid’ah begitu? Langsung dicap pelaku dosa besar untuk seterusnya begitu?

Cara pandang yang seperti itu memang masih ada sampai sekarang. Menjelek-jelekkan kaum muslimin yang lain dan menganggap diri paling benar. Menganggap diri mereka paling ahlus sunnah dan menamakannya dengan itu. Lalu, organisasi lain yang bermanhaj ahlus sunnah tidak dianggap ahlus sunnah? Kok tega sekali ya seperti itu?

Dalam suatu kejadian yang viral, orang-orang seperti itu akan selalu muncul. Seperti dalam berita Muyassaroh, akhwat bercadar di MTQ Sumatera Utara yang tidak mau membuka cadarnya, eh, malah dianggap ahlul bid’ah juga karena ikut perlombaan macam begitu. Lho, yang mencela hafalannya sudah berapa juz ya? Bacaannya sudah benar atau masih belepotan? Jangan sampai baru tahap Iqra, sudah berani mencela penghafal Al-Qur’an?

Termasuk tusukan yang negatif adalah ketika kita sembarangan dalam menyebarkan ilmu dari seorang ustaz yang notabene tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan hadits Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam. Misalnya, pakai hadits-hadits palsu, lemah, tidak sesuai pemahaman para sahabat atau salafush sholeh dan lain sebagainya. Makin disebarkan, bisa makin bingung orang yang menerimanya nanti.

Menghindari Tusukan Negatif

menghindari-kasus-penusukan-syekh-ali-jaber

Jaman now, kita memang harus hati-hati dalam mengambil ilmu. Jangan sampai kita salah belajar dari dai yang sembarangan. Seperti yang pernah dikatakan oleh Ustaz Abdul Qadir Jawwas. Jangan terjebak dengan orang yang berjenggot dan bercelana cingkrang, karena bisa jadi pemahamannya Khawarij atau malah Syiah.

Begitu juga dalam urusan jodoh. Ini juga perlu hati-hati. Jangan sampai penampilan menipu! Terlihat berpenampilan sunnah, tetapi setelah menikah, menghalangi istrinya untuk belajar ilmu syar’i karena berbeda kelompok. Tidak mengizinkan istrinya untuk aktif di organisasi dakwah yang sudah eksis dan diakui secara luas. Ini jelas pemikiran yang perlu diluruskan.

Agar terhindar dari tusukan negatif tersebut, perlu melihat ustaz yang berlembaga. Mengapa harus berlembaga? Sebab, lembaga itu pada dasarnya adalah suatu majelis. Melihat di dalamnya adalah orang-orang yang berilmu, beraqidah benar dan tidak sembarangan dalam berucap maupun berbuat. Jika seorang ustaz di dalamnya melakukan kesalahan, ustaz yang lain akan menegur.

Seperti dalam kasus penusukan Syekh Ali Jaber, bagi mereka yang berlembaga, akan senantiasa menjaga diri, Insya Allah, dengan komentar maupun tanggapan. Biarkanlah dulu ustaz yang lebih berkompeten untuk memberikan arahan. Termasuk dalam hal ini, untuk kasus covid-19. Cara menghadapinya dan sebagainya, tinggal tunggu arahan saja.

Mekanisme lembaga yang kuat akan membuat dakwah makin mantap. Rencana program yang sudah disusun dan diputuskan dalam musyawarah, mesti dilaksanakan oleh unit-unit kerja yang ada. Nantinya, dievaluasi melalui musyawarah kembali. Begitu seterusnya, sehingga dakwah ini terus berjalan secara konsisten, terarah dan penuh dengan pertanggungjawaban.

Hal yang akan jadi masalah adalah ilmu dari seorang ustaz yang menusuk secara negatif, tetapi kita teruskan hingga menjadi makin menusuk. Cela-mencela terus berlangsung. Bahkan kepada organisasi dakwah lain, ikhwah dan akhwatnya. Sampai muncul ironi: ikhwahnya ditahdzir, akhwatnya ditaksir. Weh, e, e, lha kok malah jadi begini?!

Carilah organisasi dakwah yang sudah eksis, perkembangannya pesat di Indonesia ini, bahkan sampai ke luar negeri, diisi dan dikelola oleh kader dakwah profesional, menyampaikan dakwah secara lembut sesuai syariat Islam, serta belajar dari hal yang paling dasar. Apa itu?

Dimulai dulu dari penanaman tauhid, setelahnya membaca Al-Qur’an. Jangan sampai terlalu banyak berkoar-koar di sana-sini tentang Islam, tetapi bacaan Al-Qur’annya masih amburadul. Salah pengucapan, panjang pendeknya dan tajwid. Apa kata dunia?

Temukan organisasi dakwah tersebut di Wahdah Islamiyah dan silakan dibuktikan sendiri!

Wa’allahu alam bisshawab.

Baca Juga: Bersama Teman Sampai ke Ujung, Apakah Beruntung?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here