Cadar dan Keinginan Untuk Istiqomah Secara Sadar (3)

0
184

Bismillah. Pada tulisan kali ini, menjadi lanjutan dari bagian atau part 2 yang lalu dan menjadi bagian terakhir.

Kita akan bahas salah satu media sosial yang dahulu sempat jadi tren. Namanya Twitter. Media ini lebih sering menjadi ajang debat politik sekarang. Dan, komentar maupun postingan yang ada juga seringkali malah lucu. Ah, kalau bahas politik, sampai kapan sih mau selesai?

Yang Mana Itu, yang Mana Ini?

Sebuah akun Twitter yang tidak usah disebutkan di sini agar tidak dikira iklan gratis, mengungkapkan sebuah video yang tujuan awalnya memang ingin mendiskreditkan perempuan bercadar. Video itu berisi rombongan akhwat bercadar yang ke luar dari sebuah tempat. Entah karena ada acara khusus atau apalah, tidak tahu.

Baca Juga: Menjadi Muslimah yang Bersemangat Menuntut Ilmu

Tampak banyak sekali yang lewat. Namun, video tersebut diberi caption atau label dengan tulisan begini: Mana Jubaedah, mana Maemunah? Tunggu, masih ada lagi! Dia berkomentar dalam akunnya tersebut: Memakai cadar di beberapa negara itu sanksinya adalah dibunuh. Alasannya, besar doktrin tentang cadar di sebuah negara.

Tambah lagi, ada beberapa negara yang melarang cadar karena alasan keamanan. Banyak katanya perbuatan kriminal yang dilakukan oleh perempuan-perempuan bercadar. Hem, begitu ya?

Susah Mengenali

Dari membahas video, kita bahas tentang audio. Kali ini tentang siaran live yang dahulu pernah disuarakan di Radio Cakrawala Muslim 100 FM, radio milik DPD Wahdah Islamiyah Bombana. Sekarang sih belum aktif lagi. Harap maklum ya.

Ada seorang pendengar yang bertanya, kaitannya dengan cadar. Dia berpendapat bahwa dengan adanya cadar itu kita jadi susah membedakan seseorang. Mirip ya dengan ulasan video di atas? Bagaimana mau mengenal si ini dan si itu kalau mukanya tertutup dan terlihat cuma matanya? Padahal, kita ‘kan harus saling kenal-mengenal. Begitulah kira-kira.

Dibakar!

Video sudah, radio dakwah Bombana sudah, sekarang ke radio milik Wahdah Islamiyah pusat. Ada sebuah kisah nyata yang dibacakan oleh penyiar. Nama acaranya Nurani. Saya juga lupa nama tokoh di situ, tetapi inti ceritanya masih saya ingat.

Gadis yang bercadar itu sedang kuliah di luar kota. Mendapatkan hidayah untuk mengenakan jilbab besar, sampai bercadar. Alhamdulillah. Namun, terjadi penentangan yang luar biasa saat dia pulang ke kampung. Orang tuanya sangat terkejut menyaksikan anaknya berpakaian seperti itu.

“Pakaian macam apa itu?!” Pada intinya, orang tuanya tidak setuju. Bahkan marah besar. Saking marahnya, pakaian anaknya berupa gamis, jilbab, dan cadar dibakar semua! Subhanallah. Jelas dong anak gadisnya menangis. Kalau pakaian syar’inya dihancurkan begitu, dia mau pakai apa? Mungkin masih ada pakaian atau jilbab lain. Namun, apakah akan sama, dari bentuk dan rasanya?

Sungguh kisah yang menyedihkan dan bisa terjadi di suatu tempat di muka bumi ini. Selama stereotip terhadap perempuan bercadar masih ada, maka kejadian tidak mengenakkan dapat terus terjadi, termasuk menyinggung sedikit perlombaan MTQ yang lalu ‘kan? Dikira yang bercadar itu akan berbuat curang. Nama di daftar peserta berbeda dengan aslinya. Subhanallah, ada juga ya orang mau berbuat curang dalam perlombaan Al-Qur’an?

Sedikit Selingan

Oleh karena tulisan ini masih membahas tentang cadar, maka ada sedikit gelitikan yang sebenarnya benar juga. Wah, maaf, kalimatnya tidak efektif!

Ada sebuah pertanyaan yang ditujukan kepada seorang ustaz. Begini, “Ustaz, bagaimana itu hukumnya tentang seorang akhwat yang pakai cadar di depan ikhwah, menjaga diri sekali, tetapi ketika bertemu dengan penjual sayur, penjual ikan, atau penjual lain yang laki-laki di depan rumahnya, dia malah buka?”

Rupanya, jawaban sang ustaz kira-kira begini, “Itu akhwat yang sangat bagus. Dia menjaga pandangan antum dan itu memang baik. Berarti dia sudah tahu. Meskipun dia sendiri tidak bisa menjaga dirinya dari orang awam.”

Baca Juga: Cinta Pertama dan Terakhir Bersamamu

Ada pula yang pertanyaannya seperti ini, tentang akhwat yang malah berlari di depan para ikhwah saking malunya. Dijawab, “Akhwat tidak perlu malu karena Insya Allah para ikhwah tahu hukumnya memandang akhwat. Mereka akan menjaga matanya. Kalau sudah lari begitu, terus jatuh, bagaimana? Mau ditolong, itu akhwat. Tidak ditolong, itu juga akhwat. Serba salah akhirnya.”

Stereotip yang Tidak Solutip

Memang sih, kenyataan telah terjadi. Fitnah terhadap perempuan bercadar pun tidak dapat dielakkan. Ada yang menggunakan pakaian cadar tersebut untuk mencuri di sebuah toko ritel modern. Dan, yang tidak kalah mengerikan adalah laki-laki yang menyamar sebagai perempuan bercadar, lalu merampok atau berbuat kejahatan lainnya.

Hal yang perlu diyakini, itu semua adalah oknum. Kalau yang namanya oknum, maka tidak bisa digeneralisir semua orang pasti begitu. Bercadar terus dianggap ikut gerakan radikal, ekstrimis sampai teroris, ini hal yang sangat mengada-ngada. Masa ciri khas teroris kelihatan sekali seperti itu? Maksudnya mudah sekali terlihat ciri-cirinya.

Bagaimana dengan teroris dengan pakaian biasa, tetapi mengenakan tas ransel, lalu membawa bom? Atau perempuan yang berpakaian tidak syar’i. Bukankah itu sejatinya adalah teror bagi pandangan laki-laki yang ingin berubah lebih baik?

Mari kita ambil analogi yang lain. Sebagaimana yang dikatakan oleh Ustaz Zezen Zainal Mursalin. Kalau koruptor itu berdasi, maka apakah laki-laki yang berdasi itu langsung dicap sebagai koruptor? Kan ini jelas penempatan konteks yang sangat tidak benar.

Bayangkan jika itu terjadi, yang berdasi juga dianggap koruptor. Nanti, mahasiswa yang mengenakan kemeja putih, celana hitam dan dasi hitam, dikatakan koruptor. Padahal, dia hanya ingin ujian pendadaran atau ujian meja demi memenuhi syarat skripsi. Misalnya, ditanya, “Kamu koruptor ya? Karena kamu pakai dasi?!”

Langsung dia membantah, “Maaf, Pak, saya tidak korupsi. Yang saya fokuskan adalah skripsi dan nantinya resepsi.”

Kira-kira seperti itulah yang banyak muncul di benak pemuda kita.

Berpengaruh Sampai ke Keluarga

Fitnah yang sangat tajam dan cukup kejam menyerang para muslimah bercadar, sampai dikatakan “ninja” pula, sampai juga ke tengah-tengah keluarga mereka. Apalagi yang orang tuanya kurang ilmu terhadap agama ini, bermodalkan cerita orang, cuma dengar-dengar dan terpengaruh pula dari media sosial.

Kalau sudah begitu, maka untuk bisa konsisten dengan busana syar’inya akan lebih terasa berat. Bayangkan keluarga sendiri, tempat tinggal sehari-hari, mendapatkan penolakan yang tak terperi. Tidak gampang mempertahankan istiqomah, apalagi jika keluarga sendiri menanamkan syubhat.

“Gak usah pakaian begitu. Nanti kamu akan susah dapat jodoh.”

“Kamu gak akan bisa dapat kerja kalau penampilanmu begitu.”

“Jadi orang Islam itu biasa-biasa saja, wajar-wajar saja. Jangan eksklusif. Kalau penampilan kamu macam itu, kamu akan dianggap aneh.”

“Bapak sama ibumu tidak akan pernah ridho kamu berpenampilan kayak orang Arab!”

Seperti itulah kalimat-kalimat yang mungkin diterima oleh muslimah bercadar. Apalagi ketika dia baru mulai berpenampilan seperti itu. Dari yang tadinya penampilan serba terbuka, mengundang fitnah laki-laki, tetapi bangga karena memang cantik, kini hidayah Allah menyapa. Membuka pintu hatinya. Menyulam kembali rasa cintanya kepada Al-Qur’an dan sunnah yang sebelumnya dia merasa hilang tak tentu arah.

Baca Juga: Pemberian yang Tak Lekang oleh Zaman

Padahal, sejatinya, urusan berpakaian itu adalah hak individu. Apalagi bagi anak yang sudah dewasa, maka dia berhak untuk memilih penampilan seperti apa? Memang, yang paling utama harus sesuai dengan aturan Islam. Mengenai model, warna, merek sampai dengan harga, ada diskonnya atau tidak, tetap semuanya jangan ke luar dari syariat.

Meskipun anak sudah besar seperti itu, tetapi tidak semua orang tua mau menerima. Bahkan, merasa resah apabila ada anaknya yang berpenampilan Islami, seperti bercadar itu. Hal tersebut juga dikaitkan dengan nama baik keluarga. Apa kata orang nanti? Apa kata tetangga nanti? Bagaimana jika dicurigai ikut aliran tertentu? Padahal setiap keluarga pastilah punya aliran, yaitu: aliran listrik dan aliran air.

Makin Meluas

Meskipun negara ini menganut sistem demokrasi dalam penentuan pemimpin maupun wakil rakyat, tetapi tidak semua orang tua menganut sifat demokratis. Masih menganggap anaknya seperti anak kecil alias belum bisa berpakaian sendiri. Masih dikekang dengan aturan yang lama dan kemungkinan besar malah tidak sesuai dengan syariat Islam.

Semestinya orang tua memahami bahwa anak yang berpakaian syar’i dalam hatinya ingin menjadi anak yang sholehah. Ingin menghindarkan tubuhnya dari santapan mata laki-laki yang bukan mahrom. Bukankah kalau anak perempuan yang sudah baligh, tetapi tidak berjilbab dan berpakaian ala kadarnya, maka orang tuanya akan ikut berdosa? Sebaliknya, ketika anaknya menjaga diri, pasti dong orang tua akan ikut memanen pahala.

Mengenakan cadar dan berbusana muslimah secara sempurna juga mesti tercermin dalam pengelolaan kehidupan selanjutnya. Apa yang cukup dekat dengan kehidupan para gadis muslimah? Selain kematian, yang dekat juga adalah pernikahan. Ya, menikah untuk menyempurnakan separuh agama.

Dalam momen ini, seorang akhwat bercadar pastilah mengharapkan agar ketika menikah juga sesuai dengan syariat Islam dan menghindari kemungkaran-kemungkaran di dalamnya. Adanya foto prewedding bersama, musik, campur baur laki-laki dan perempuan, pengantin wanita dipajang di hadapan tamu laki-laki, acara yang mengganggu orang lain sampai istirahat malamnya dan lain-lain.

Ada sebuah kejadian nyata. Seorang akhwat yang sudah bercadar agak lama. Ketika akan menikah, sudah disampaikan bahwa maunya walimah syar’i. Namun, orang tuanya tidak langsung menerima karena masih berpikir nanti tentang pandangan keluarga. Muncul konflik batin, sampai akhirnya anaknya yang kalah. Acara tetap digelar seperti pada umumnya, resepsi biasa. Akhwat tersebut menangis, karena wajah yang selama ini dijaga, harus ditampilkan di depan umum, bersolek cantik lagi.

Padahal, orang tua yang kolot tidak mau walimah syar’i mungkin bisa dianggap kurang piknik. Betapa banyak acara dengan konsep walimah syar’i tersebut. Bahkan, di hotel-hotel ternama juga sudah banyak. Jadi, bukan hal yang baru dan dianggap tabu lagi. Sebab, dalam sebuah acara walimah, yang diharapkan utama bukanlah banyaknya tamu, amplop yang masuk, pejabat yang datang atau megah-megahannya, melainkan keberkahannya. Untuk apa acara besar, tetapi tidak berkah? Ya ‘kan?

Tidak Perlu Takut

Menjalankan syariat Islam memang tidak perlu ada yang ditakutkan. Seperti berita Muyassaroh yang konsisten dengan cadarnya hingga mendapatkan perhatian sangat besar dari kaum muslimin. Bercadar adalah sebuah pilihan hidup dan itu semestinya menjadi hak asasi orang lain.

Perempuan yang berbusana syar’i hingga bercadar, maka sejatinya dia tidak cuma menjaga dirinya sendiri, tetapi juga keluarga, plus orang lain. Bayangkan jika tidak mengenakan itu, auratnya terbuka, terlihat oleh laki-laki lain, terbayang-bayang hingga ke alam mimpi, bukankah itu menjadi dosa jariyah bagi si perempuan?

Meskipun ada juga perempuan bercadar, tetapi memamerkan kecadarannya di tempat umum, lebih khusus di media sosial. Melalui foto maupun video. Menampilkan kesehariannya bersama suami, dengan tingkah polah yang aslinya adalah settingan belaka. Subhanallah. Cadar yang harusnya untuk menutupi diri dari yang bukan mahrom, ini malah dijadikan konsumsi visual publik.

Istiqomah itu memang berat, tetapi kalau tidak istiqomah, nantinya malah lebih berat. Cadar terlepas dari pendapat ulama, wajib maupun sunnah, menjadi suatu kelengkapan busana muslimah yang baik. Batin suami akan sangat senang sebenarnya apabila istrinya bercadar. Sebab, ketika di rumah, dia berpenampilan kearab-araban, sementara di dalam kamar, dia kebarat-baratan. Anda tentu tahu maksudnya ‘kan?

Selain itu, kecantikannya hanya untuk sang suami sendiri. Ibaratnya, mungkin Anda sudah tahu, seperti berlian. Tidak sembarang orang menyentuh. Sebagai hadits dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam:

الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِهَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ،

“Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah.” (Hadits riwayat Muslim dari Abdullah ibnu Umar)

Dalam hadits yang lain, disebutkan:

أَلَا أُخْبِرُكَ بِخَيْرِ مَا يَكْنِزُ الْمَرْءُ الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ إِذَا نَظَرَ إِلَيْهَا سَرَّتْهُ وَإِذَا أَمَرَهَا أَطَاعَتْهُ وَإِذَا غَابَ عَنْهَا حَفِظَتْهُ

“Maukah aku beritakan kepadamu tentang sebaik-baik perbendaharaan seorang lelaki, yaitu istri shalihah yang bila dipandang akan menyenangkannya, bila diperintah akan mentaatinya, dan bila ia pergi si istri ini akan menjaga dirinya.” (HR. Abu Dawud no. 1417. Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah berkata dalam Al-Jami’ush Shahih 3/57: “Hadits ini shahih di atas syarat Muslim.”)

Kalaupun masih ada yang nyinyir terhadap perempuan bercadar, maka perlu dikembalikan lagi deh ke si penyinyir. Dia saja pakai cadar dengan uangnya sendiri, mereka beli juga tidak menyusahkan orang kok, tidak minta uang juga ke si penyinyir, jadi buat apa dikritik terus? Bukankah nanti semakin nyinyir, semakin terasa pula bau anyir?

Nyinyiran lainnya, jika untuk mengenali perempuan bercadar yang tidak terlihat mukanya itu susah, ini juga tunggu dulu! Apakah mengenal seseorang itu harus melihat wajahnya? Bukankah kita bisa mengenal ibunda kita, Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu anha tanpa pernah melihat wajahnya? Begitu pula ummul mukminin dan shahabiyah yang lain. Mana tahu kita wajah mereka, toh kita yakini bahwa mereka ada dan sudah berperan sangat besar bagi Islam, agama yang mulia ini.

Lebih perlu bagi laki-laki untuk mengenal suaminya saja. Kita cukup tahu bahwa nama fulanah itu suaminya si fulan. Sudah begitu saja, selesai. Gampang ‘kan?

Sekian, untuk tiga seri tulisan ini tentang cadar dan istiqomah dalam mengenakannya. Syukron bagi Anda yang sudah menyimaknya dari tulisan pertama. Memang, katanya, dunia muslimah itu tidak cukup dituangkan dalam satu tulisan saja, sebagaimana cinta mereka yang sangat luas dan seakan-akan tak terbatas kepada suami tercinta dan anak-anak tersayang.

Wa’allahu alam bisshawab.

Baca Juga: Laris Sepanjang Masa

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here