Viral Gambar Avatar di Facebook

0
326
viral-gambar-avatar-di-facebook

Jagat media sosial, khususnya Facebook, beberapa hari ini masih diramaikan dengan avatar. Ya, cukup viral avatar di Facebook Indonesia. Gambar-gambar kartun yang dihasilkan, kata si pemakai, mirip dengan aslinya.

Facebook Sebagai Media Sosial “Penuh Perasaan”

Sebenarnya, orang sekarang atau diistilahkan dengan manusia jaman now, susah sekali untuk lepas dari yang namanya media sosial. Jarang sekali ada orang yang tidak punya akun medsos, singkatan untuk media sosial.

Aneka medsos mungkin bisa Anda sebutkan secara lengkap. Mulai dari Facebook, Instagram, Twitter, YouTube, LinkedIn atau yang tidak kalah hebohnya, yaitu: TikTok. Namun, dalam tulisan kali ini, jelas tidak akan dibahas semuanya. Kita hanya akan menyasar medsos dengan ciri warna biru. Facebook.

Ada yang mengatakan bahwa Facebook ini termasuk media sosial paling lengkap, terutama dari segi interaksi. Bagaimana tidak, di Facebook disajikan berbagai macam ekspresi yang bisa kita pilih. Mulai dari tombol jempol (like), daun waru merah, peduli, tertawa, sedih dan marah. Bandingkan dengan media lain, tidak ada yang selengkap Facebook.

Gambar Melebihi Kata

Nah, Facebook tidak hanya sekadar melengkapi fasilitas penggunanya dengan kata-kata, tetapi juga dengan gambar. Yang dimaksud gambar di sini itu bisa berupa foto maupun video. Tentunya, video-video yang ada tidak sembarang bisa ditaruh di Facebook. Video seperti kekerasan biasanya yang paling banyak disembunyikan alias disensor.

Agar lebih menarik dalam pemakaian, maka gambar dipakai oleh warganet Facebook. Namun, gambar yang sangat menarik perhatian adalah avatar. Apa itu avatar? Ini adalah simbol dari diri sendiri. Gambar avatar di Facebook menjadikan penggunanya bisa melukiskan dirinya sendiri dalam bentuk gambar yang katanya lucu, unik dan menggemaskan.

Avatar di Facebook Pun Menjadi Viral

Mungkin Anda pernah mengetahui tentang teori kerumunan massa. Ambil contoh, dari kerumunan anak-anak nongkrong di pinggir jalan. Atau mungkin anak-anak remaja dari sekolah menengah umum.

Misalnya, ada salah satu yang menyulut permasalahan dengan mengatakan sekolah lain akan menyerbu. Kabar yang belum tentu benar tersebut langsung ditanggapi cepat oleh anak-anak remaja tanggung di situ. Makin lama kabar makin tersiar luas. Pada akhirnya, menjadi satu kerumunan massa remaja sekolah, sampai berwujud tawuran yang tidak bisa dihindari. Subhanallah.

Kerumunan memang bisa mendatangkan bahaya, terlebih dalam masa pandemi ini. Fitnah yang muncul dalam jumlah sedikit bisa menjadi besar jika dikompori dalam sebuah kerumunan, terlebih kerumunan tersebut jauh dari agama dan ilmu. Corona pun bisa lebih cepat menyebar lewat kerumunan. Makanya, masih diperlukan jaga jarak, hindari kerumunan, tetap di rumah saja dan setia dengan masker.

Dalam dunia digital, kerumunan menciptakan yang namanya viral. Apalagi gambar avatar tersebut termasuk baru bagi para pengguna Facebook, share satu ke yang lainnya, menjadi sangat banyak orang ingin mencoba. Ditambah berbagai reaksi yang menyenangkan bagi mereka, maka makin tersebar dan terus tertebar.

Bahkan, saking viralnya, justru para aktivis dakwah ada yang terkena jaring itu. Mencoba membuat avatar sendiri. Termasuk yang notabene menutupi wajahnya dari tatapan laki-laki asing. Anda tahu sendiri ‘kan maksudnya?

Menggambar Makhluk Hidup

Mungkin karena terbawa suasana bahagia, maka tanpa sadar telah melanggar aturan Allah. Mereka harusnya ingat dengan hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam: “Orang yang menggambar gambar-gambar ini (gambar makhluk bernyawa), akan diadzab di hari kiamat, dan akan dikatakan kepada mereka, ‘Hidupkanlah apa yang kalian buat ini!'” (H. R. Bukhari dan Muslim).

Cukup mengerikan bukan ancamannya? Sudah diadzab alias disiksa, ditambah disuruh menghidupkan lagi. Apakah ada orang yang bisa? Tentunya tidak ada. Siksa dari Allah pastilah sangat berat. Ustadz Dr. Firanda, Lc, MA mengatakan bahwa, “Tidak ada yang bisa menyamai penyiksaan seperti penyiksaan dari Allah.”

Tentu dong, namanya manusia ada yang mencoba membantah kaidah atau hukum tersebut. Dalam sebuah komunitas atau grup menulis di Facebook, ada seorang ibu yang mengatakan bahwa itu untuk hiburan saja. Selain itu, dibandingkan dengan gambar kartun di televisi, tayangan film untuk anak-anak, sampai dengan foto KTP. Kalau yang lain bisa, mengapa gambar avatar tidak boleh?

Sebenarnya, yang dipermasalahkan itu adalah kita benar-benar menggambar avatar diri sendiri. Bukan orang lain. Bukan suami, istri, anak-anak maupun orang tua. Kita melihat wajah misalnya alisnya seperti ini, bibir tebal, berkumis, rambut sebahu, atau berbagai ciri tubuh lainnya.

Setelah avatar tersebut jadi, Facebook dengan algoritmanya yang luar biasa, mengubah menjadi gambar-gambar yang lucu. Bisa dengan ekspresi senang, tertawa, sedih, posisi sedang malas dan lain sebagainya. Makin terhibur, eh, ternyata avatar kita jadi bisa untuk berbagai macam situasi lho!

Apalagi dipakai untuk berkomentar di status FB orang lain. Wuih, jadi makin cihuy! Tanpa sadar lagi, itu sudah menjadi dosa jariyah jika orang lain ikut-ikutan. Atau malah kita yang mengajari mereka membuat avatar. Terlebih jika orang mengenal kita paham agama, lalu orang mencontoh perilaku kita yang membuat avatar tersebut.

Mereka pun berkomentar, “Lha itu, yang aktivis dakwah juga bikin avatar. Masa kita yang awam ini nggak?”

Nah, makin runyam ‘kan? Akhirnya, dosa kita pun jadi makin berlipat ganda. Yang lalu saja belum tentu diampuni Allah, ditambah lagi yang satu ini.

Gambar avatar memang berbeda dengan foto. Sebab, avatar adalah makhluk hidup sempurna. Yang diperbolehkan itu ketika menggambar yang tidak sempurna makhluk hidup. Misalnya, gambar dengan tanpa leher. Gambar wajah tanpa mata, atau sekalian dengan tanpa wajah. Gambar-gambar seperti itu tetap bisa menjadi media belajar untuk anak-anak kok! Buktinya, Majalah Kinan yang menjadi “adik” dari Majalah Qiblati dahulu.

Sedangkan foto itu pada dasarnya bukan menggambar makhluk hidup, melainkan dianalogikan dengan berkaca. Memindahkan sesuatu yang asli ke dalam media dengan tujuan tertentu pula. Tentu kita akan sangat kesulitan jika tanpa kartu identitas bukan? Coba, mau mendaftar kuliah, susah. Mau menikah, tidak mudah. Mau melamar kerja, kurang syaratnya.

KTP itu sendiri sebagai syarat wajib dari kita sebagai bagian dari warga negara atau penduduk negara Indonesia ini. Bila Anda tidak punya KTP, padahal usianya sudah di atas 17 tahun, maka Anda akan dicurigai. Ya, kalau dituduh warga negara asing, bagaimana kalau dituduh teroris? Ini jelas sangat mengerikan dan fitnah yang sangat besar.

Kesimpulan

Pada intinya, sebagaimana status seorang muslimah adalah jangan latah! Jangan suka ikut-ikutan, terlebih jika kita belum tahu ilmu di dalamnya atau ilmu tentangnya. Media sosial ini memang menyajikan sesuatu yang penuh dengan pesona. Facebook membuat avatar seperti itu tentu bertujuan agar para penggunanya betah berlama-lama di dalamnya.

Coba kita berpikir, daripada membuat avatar semacam itu yang hasilnya belum tentu mirip atau dimirip-miripkan, masih lebih baik disyukuri wajah kita ini. Yakinlah bahwa wajah kita jauh lebih cakep atau cantik daripada gambar-gambar semacam itu. Kalau sudah cakep dan cantik, maka tidak perlu dibuat yang aneh-aneh.

Oh, ya, lalu bagaimana dengan gambar-gambar emoticon di Whatsapp (WA) yang sering dijadikan bahan untuk chat itu? Jika diperhatikan, gambar emoticon di WA tersebut bukanlah berupa gambar makhluk hidup yang sempurna. Kepala-kepala gundul yang terpotong dari tubuh dan menggunakan ekspresi yang sekiranya bisa mewakili perasaan kita dalam obrolan di WA.

Tentunya, obrolan WA ini bisa menjadi sarana canda yang berlebihan. Menggunakan emoticon yang merendahkan orang lain, maka ini yang perlu hati-hati. Jangan sampai dia menjadi tersinggung, lalu kita diblokir. Akhirnya, rusaklah hubungan ukhuwah kita.

Bagi Anda yang sudah membuat avatar di Facebook, lebih bagus dihapus saja dan jangan pernah digunakan lagi. Masih banyak cara kok untuk menunjukkan rasa cinta berdasarkan ukhuwah kepada saudara kita. Boleh dengan membuat gambar yang tanpa makhluk hidup, memakai gambar pemandangan, tetapi isinya kalimat motivasi dari Al-Qur’an, hadits maupun perkataan salafush sholeh. Bukankah hal tersebut lebih bermanfaat?

Wa’allahu alam bisshawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here