Bulan Al-Qur’an, Kapan Mau Dipersiapkan?

0
132

Jenuh. Bosan. Jengkel. Marah. Sedikit bahagia. Banyak sedihnya. Itulah yang akan bisa dirasakan oleh orang-orang yang cenderung lengket sekali dengan dunia medsos. Seakan-akan tangan tidak mau lepas dari gawainya. Baru diletakkan sebentar, sudah dibuka lagi. Belum lama dimasukkan ke kantong celana, eh, dicek kembali.

Istirahat Mata

Dari mata turun ke hati. Dari hati, naik lagi ke mata. Kita pasti tahu, bahwa mata adalah organ tubuh yang sangat istimewa. Kegunaannya sangatlah vital. Punya kemampuan yang sampai sekarang belum bisa terkalahkan oleh kamera paling modern sekalipun. Mata mempunyai resolusi yang sangat tinggi, apalagi di depannya ada kue resoles, nafsu makan jadi ikut tinggi.

Baca Juga: Laris Sepanjang Masa

Saat mata lelah dengan semua ini, maksudnya semua yang terjadi di medsos dan tidak berfaedah sama sekali dari HP kita, maka jelas mata kita butuh istirahat. Salah satunya adalah dengan membaca Al-Qur’an. Menikmati huruf-huruf berbahasa Arab yang sangat tersusun rapi menjadikan pandangan kita jadi lebih teduh dan sejuk.


Pakai Mushaf

Bagi Anda yang banyak hafalan Al-Qur’annya, Alhamdulillah, lebih bagus mana sih mengaji pakai mushaf atau dari mengingat? Tentang pertanyaan ini, para ulama berbeda pendapat. Namun, ada satu benang merahnya. Apa itu? Intinya adalah yang mana paling bisa mendatang kekhusyukan atau fokus dalam membaca Al-Qur’an?

Seandainya dengan mushaf itu bisa konsentrasi penuh dalam mengaji, maka itu lebih baik daripada membaca dari hafalan. Namun, kalau dari hafalan pikiran bisa lebih nyaman dan tidak terganggu, maka itu juga lebih baik.

Jika sama-sama khusyuknya bagaimana? Wah, ini termasuk yang luar biasa! Bila sama-sama seperti itu, maka pakai mushaf lebih baik. Sebab, bisa meminimalisir kesalahan dan mata memang tidak ke mana-mana. Maksudnya, di sini jelas pandangannya lho ya!

Haid dan Nifas Tidak Cuma “Dialami” Perempuan

Tunggu dulu, jangan kaget betulan ya, membaca subjudul ini! Memang pada dasarnya haid dan nifas itu dialami oleh kaum perempuan, baik perempuan itu belum menikah atau masih jomblo. Eh, maksudnya, belum menikah maupun sudah. Terus, artinya haid dan nifas juga “dialami” oleh laki-laki? Untuk menjawab ini, lebih baik kita ganti paragraf ya!

Nah, begini lebih bagus. Tentang haid dan nifas ini memang ada kaitan hukumnya ketika membaca Al-Qur’an. Apakah ketika haid dan nifas itu diperbolehkan membaca Al-Qur’an atau tidak? Bagaimana menurut Anda sendiri?

Ternyata, tidak ada dalil larangan yang tegas, lho, kaum perempuan ketika mengalami dua hal itu tidak boleh membaca Al-Qur’an. Akan tetapi, yang perlu diperhatikan di sini adalah, membacanya bagaimana dulu? Caranya bagaimana? Apakah dengan menyentuh mushaf?

Empat imam mazhab, yaitu: Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Asy-Syafi’i dan Imam Ahmad, telah sepakat mempunyai pendapat bahwa perempuan yang sedang haid dan nifas tidak boleh menyentuh mushaf. Terus, bagaimana jika pakai pelapis? Misalnya kaos tangan? Atau kain yang menutupi tangan? Kalau yang ini, tidak masalah alias tidak mengapa bila seperti itu.

Baca Juga: Ketika Tidak Mau Berhukum dengan Hukum Allah, Apakah Kafir?

Masih ada yang belum dijelaskan tentang subjudul ini, kaum laki-lakinya bagaimana? Nah, ini berdasarkan kisah nyata. Semoga jadi pembelajaran bagi kita.

Ada seorang mahasiswa yang kuliah di sebuah perguruan tinggi Islam terkenal di Indonesia ini. Dia belajar dari berbagai kitab ulama. Ketika ada pembahasan tentang nifas dan haid – agar tidak bosan karena tadi haid dan nifas terus – dia melewatinya. Tidak membacanya. Tidak mengkajinya dengan lebih detail. Ah, itu ‘kan urusan perempuan. Buat apa sih laki-laki tahu itu?

Lalu pada sebuah kesempatan, dia ceramah di masjid, dengan audiens umum, bapak, ibu, remaja, laki-laki dan perempuan. Penyampaian ta’lim selesai, disambung dengan tanya jawab. Seorang ibu bertanya kepada ustadz tersebut tentang haid. Wah, rupanya dia merasa bingung dan kurang tahu dalam menjawab pertanyaan mengagetkan itu! Alhasil, dia berkata ke jamaah mau belajar dulu tentang materi tersebut agar tidak salah dalam menjawabnya.

Dari sekelumit kisah tersebut, maka bisa kita ambil hikmahnya. Pertama, untuk urusan agama ini, memang ada yang lebih khusus ke laki-laki, ada pula yang ke perempuan. Meskipun laki-laki dan perempuan, lebih bagus mengerti ilmunya masing-masing. Namun, laki-laki boleh kok belajar tentang kaidah agama Islam menyangkut haid dan nifas. Tujuannya sebagai ilmu pula bagi perempuan yang akan atau sudah menjadi mahromnya.

Dia bisa menyampaikan ilmu kepada ibu, saudara perempuan, maupun istrinya. Jadi, tidak masalah jika ada seorang laki-laki muslim belajar buku Fiqih Wanita, karena toh yang menulis ulama laki-laki juga. Tidak boleh merasa risih, bahwa itu cuma domainnya perempuan.

Kedua, senantiasa menjawab yang diketahui saja. Saat ada orang yang bertanya dan kita tidak tahu, katakan saja tidak tahu. Jangan sampai tetap menjawab, tetapi malah ngawur! Jangan pula punya persepsi tidak enak, masa ada orang bertanya, tidak dijawab?

Jika salah, kemudian yang bertanya tersebut menerapkannya, apalagi menyampaikannya ke orang lain, maka kita bisa kena imbasnya lho! Jadi, tidak masalah kita diam atau berkata tidak tahu. Toh, agama Islam ini sangat luas, masih banyak yang belum kita tahu ‘kan?

Sebelum Ramadhan Benar-benar Tiba

Ramadhan adalah bulannya Al-Qur’an. Pada bulan itu, Al-Qur’an diturunkan ke dunia. Sewajarnya memang saat Ramadhan tiba, kita banyak membaca Al-Qur’an. Meskipun pada bulan Ramadhan, Subhanallah, godaannya memang sangat luar biasa.

Habis Subuh, mengantuk luar biasa, karena perut kekenyangan dan suasananya cukup mendukung untuk jadi kaum rebahan. Apalagi ditambah dengan hujan cukup keras, sebagian orang menganggap tidur memang lebih pantas. Padahal, waktu tersebut sebenarnya pas sekali untuk membaca Al-Qur’an. Sebab, waktu pagi adalah berkah bagi kaum muslimin.

Ketika sore hari, tidak kalah juga godaannya. Cukup banyak anak muda yang menghabiskan waktu menunggu buka puasa dengan ngabuburit. Mereka nongkrong di tempat-tempat ramai, cuci mata katanya, menanti adzan Maghrib. Hal yang jadi pertanyaan, mereka betul-betul puasa? Atau cuma kongkow-kongkow? Jika puasa, kok tidak cari aktivitas yang lebih baik ya? Bukankah lebih bagus menunggu buka di masjid saja? Selesai buka, tidak terlambat sholat Maghrib berjamaah.

Agar lebih bisa mencintai Al-Qur’an, terlebih di bulan Ramadhan, memang perlu latihan. Sejak beberapa bulan sebelumnya, Al-Qur’an bisa dimulai untuk dibaca lebih sering. Hal yang perlu diingat adalah perlu membersihkan mulut dan gigi terlebih dulu sebelum membaca Al-Qur’an. Bisa dengan siwak maupun sikat plus pasta gigi.

Mengapa harus begitu? Ya, pakai logika saja, ketika mau ketemu dengan orang penting, maka kita mengecek bau mulut sendiri. Ada pula dengan menghembuskan napas di depan telapak tangannya. Kira-kira napasnya bikin orang pingsan atau tidak? Hehe…

Nah, dengan orang saja sudah begitu adabnya, apalagi terhadap Al-Qur’an yang notabene adalah firman Allah. Perkataan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Selain harus dengan bau mulut yang enak, sebelum membaca Al-Qur’an, kita juga mesti berlindung kepada Allah dari godaan syetan yang terkutuk. Hal ini disebutkan Allah dalam Al-Qur’an itu sendiri, tepatnya di Surah An-Nahl ayat 98:

فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ


“Apabila kamu membaca Al Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk.”

Selain persiapan diri untuk lebih senang membaca Al-Qur’an, kebiasaan buruk juga perlu diubah. Contohnya adalah merokok. Bagi para perokok, rokok memang jadi kebutuhan pokok. Makanya, ketika tidak ada rokok, pikiran terasa bengkok. Jalan yang lurus seakan terlihat berbelok-belok. Pada akhirnya, semangat kerja jadi terkulai dan terpojok, muncul keinginan untuk mogok. Waduh, efek dari tidak adanya rokok sudah sedemikian menohok!

Padahal, di bulan Ramadhan, keinginan untuk merokok itu bisa diminimalisir lho! Buktinya, masih ada yang tahan dari Subuh sampai Maghrib, tidak menghisap asap beracun tersebut. Meskipun ya, ketika berbuka, bukan es cendol, pisang ijo, kurma atau sup buah yang disikat terlebih dulu. Anda bisa menebaknya yang mana dulu ‘kan?

Begitu juga ketika sahur. Sudah bangun terlambat, tinggal sedikit waktu adzan Subuh, antara makan nasi, sayur, lauk, minum dan rokok, yang mana dulu nih? Pada akhirnya, makan nasi sambil merokok! Hem, apa enaknya itu? 

Bulan Ramadhan memang menjadi bulan training, termasuk dalam hal ini adalah latihan untuk berhenti merokok sama sekali. Kalau ada pemain sepakbola latihannya bagus pasti karena pusat trainingnya juga oke. Tapi, kalau sudah ditraining mantap, tetapi ketika bermain melempem, maka yang bersangkutan tidak menjalani latihan dengan serius. Bukankah pemain sepakbola itu juga pada dasarnya tidak merokok?

Selain itu, masa sih ada seorang ayah yang mengaku cinta kepada istri dan anak-anaknya, tetapi meracuni mereka dengan asap rokok? Cuma maunya enak sendiri, nikmat sendiri, tetapi merenggut nyawa keluarganya sedikit demi sedikit. Biasanya, jika ada tulisan tentang berhenti merokok, maka si perokok akan berhenti juga, tetapi berhenti membacanya! Rupanya, tulisan ini juga sudah selesai, kok!

Baca Juga: Penyesalan yang Sia-sia

Wa’allahu alam bisshawab

Ditulis Oleh:
Rizky Kurnia Rahman, S.I.P
(Anggota Departemen Infokom DPD Wahdah Islamiyah Bombana)

Sumber:
1. Ta’lim rutin oleh Ustadz Darlan Bakri, S.H (Alumnus Sekolah Tinggi Ilmu Islam dan Bahasa Arab Makassar) pada hari Rabu tanggal 26 Februari 2020, bertempat di Masjid Haqqul Yaqin, kompleks kantor Bupati Bombana.
2. Tafsir Al-Qur’an onlinehttps://tafsirweb.com/4446-quran-surat-an-nahl-ayat-98.html  

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here