Cinta Pertama dan Terakhir Bersamamu

0
180

Sejak manusia ada di muka bumi ini, rasa-rasanya kata “cinta” selalu ada dan terus muncul. Bentuk, macam maupun prakteknya memang berbeda-beda. Dalam definisi cinta itu sendiri, ada yang dikenal dengan cinta vertikal, yaitu: antara hamba dengan Allah, kemudian dengan para malaikat. Cinta horizontal, antara manusia dengan sesama, termasuk kepada alam semesta. Jadi hewan dan tumbuhan pasti masuk di sini.

Kali ini, kita akan mencoba mengulik definisi cinta lebih jauh. Tenang saja, jauhnya tidak sampai ke luar negeri kok, tetapi dari sudut pandang yang mungkin berbeda daripada orang kebanyakan. Wah, seperti apa itu?! Mau tahu? Sebelum itu, marilah kita simak dulu yang berikut ini!

Penenggelaman Pasukan

Ada sebuah hadist yang mulia, hadist kedua dari kitab Riyadhus Shalihin dengan penulis ulama terkenal Imam Nawawi rahimahullah.

Dari Ummul Mukminin Ummu Abdillah ‘Aisyah Radhiyallahu Anha, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Ada satu pasukan menyerbu Ka’bah, tatkala mereka berada di tanah yang lapang mereka dibenamkan (ke dalam perut bumi) dari awal pasukan hingga yang paling akhir dari mereka.” Dia (‘Aisyah) berkata: ‘Saya bertanya: Ya Rasulullah bagaimana dibenamkan dari awal hingga paling akhir dari mereka, padahal di dalamnya ada orang-orang pasar (orang awam) dan ada yang bukan dari mereka?’ Beliau menjawab, ‘Dibenamkan dari awal hingga akhir mereka kemudian mereka dibangkitkan berdasarkan niat-niat mereka.’” (Muttafaqun alaih – disepakati keshahihannya oleh Al Bukhari dan Muslim).

Baca Juga: The Central of Point


Setelah membaca hadist tersebut, apa yang menarik dalam pikiran Anda? Pertama adalah penyebutan Ummul Mukminin, ‘Aisyah Radhiyallahu Anha dengan Ummu Abdillah. Itu disebut dengan nama kuniyah. Kalau diterjemahkan, maka itu berarti ibunya Abdullah. Dalam pengertian lain, mempunyai anak yang bernama Abdullah. Kenyataannya, ‘Aisyah Radhiyallahu Anha tidak memiliki anak.


Nama kuniyah memang tidak harus dipakai oleh orang yang memiliki anak saja, bahkan yang belum, jomblo pun bisa pakai kok. Ada teman yang dulu sebelum menikah, pakai nama kuniyah Abu Sulaiman. Boleh-boleh saja. Asal, dicari nama kuniyah yang sesuai dan pas.
   
Lalu, menyangkut kisah dalam hadist di atas, sekilas mirip dengan tentara Abrahah yang menyerbu Ka’bah. Penyerbuan tersebut dibalas Allah dengan menghadirkan burung-burung yang membawa batu-batu sehingga mereka luluh lantak. 

Namun, kisah hadist ini, semuanya ditenggelamkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sama sekali tidak ada yang tersisa. Jelas tidak tersisa, karena dari paling depan sampai belakang, semuanya kena kok! Semua dapat bagian. All in one

Kita lihat, kejadian tersebut menyapu pula orang-orang yang tadinya berbuat atau dianggap baik, lho! Namun karena mereka ikut dalam rombongan orang-orang dzalim, maka mereka dapat imbas juga. Dari situlah, kita sebagai orang yang beriman dan bertakwa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala memang perlu untuk waspada ketika berkumpul atau dalam sebuah komunitas orang-orang yang sering berbuat dosa terang-terangan. Termasuk dalam hal ini adalah orang-orang yang jauh dari Allah dan mereka cukup bangga dengan hal itu. 

Nantinya, di hari kiamat, mereka akan dibangkitkan sesuai dengan niatnya. Inilah perlunya menjaga niat, dalam kondisi apapun. Usahakan semua niat tertuju kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala

Dari pembahasan sedikit tentang hadist ini di awal, kita akan menemukan definisi cinta pada bagian pertama. Eits, masih ada lagi seputar cinta yang lainnya. Markijut alias mari kita lanjut!

Kisah Nyata Tentang Cinta Sejati

Banyak orang yang mengaku bisa mendapatkan cinta sejatinya. Sayangnya mereka meraihnya dengan jalan yang tidak halal. Atau seperti yang digaungkan di film, sinetron maupun kisah-kisah picisan dalam bacaan anak muda, bahkan musik tentang cinta, apakah cinta sejati memang seperti itu? Jelas ada sebuah perbandingan sangat jauh dengan yang satu ini.

Masih erat kaitannya dengan hadist di atas, perawinya adalah Ummul Mukminin, Ummu Abdillah, ‘Aisyah Radhiyallahu Anha, istri Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Beliau dinikahi oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tiga tahun sebelum hijrah ke Madinah.

Mulai berkumpul dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pada umur 9 tahun, tepatnya bulan Syawal tahun 1 Hijriyah. ‘Aisyah Radhiyallahu Anha ditinggal wafat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pada bulan Rabiul Awal tahun 11 Hijriyah. Ketika itu, umur beliau 18 tahun.

Ummul Mukminin ‘Aisyah Radhiyallahu Anha memang mempunyai keistimewaan daripada istri-istri Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang lainnya. Bahkan, ‘Aisyah paling dicintai oleh nabi kita tersebut. Kita bisa melihat buktinya:

Suatu ketika Amr bin al-Ash bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, “Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling engkau cintai?” Beliau menjawab, “Aisyah.” “Dari kalangan laki-laki?” tanya Amr. Beliau menjawab, “Bapaknya.” (HR. Bukhari nomor 3662 dan Muslim nomor 2384).

Baca Juga: Menjadi Asing Tetapi Berilmu


Jelas kita bisa menyimpulkan bahwa orang yang paling dicintai Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah ‘Aisyah Radhiyallahu Anha. Namun, masih ada kelanjutannya. Kalau saya tanya kepada Anda, mengapa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak langsung mengatakan orang kedua yang dicintainya adalah Abu Bakar Ash Shiddiq Radhiyallahu Anhu? Mengapa cuma disebut bapaknya? Ada yang bisa menjawab?


Jawaban yang dimaksud rupanya memang betul-betul bisa mencengangkan hati kita! Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan bapaknya, dalam hal ini adalah bapaknya ‘Aisyah Radhiyallahu Anha agar masih membawa nama ‘Aisyah. Itulah bukti bahwa orang yang mencintai memang sering menyebut orang yang dicintainya. 


Suami akan sering menyebut nama istrinya. Begitu pula istrinya, sudah banyak kali memanggil nama suaminya. Meskipun bisa jadi, ada istri yang panggil-panggil nama suaminya karena banyak permintaannya. Misalnya, antar ke pasar, tempat majelis taklim, penjahit, pasar lagi, eh, penjahit lagi. Ya, tidak apa-apa, lah, toh suami harus siap siaga jadi tukang ojek, kalau perlu selama 24 jam!


Masih Tentang Keistimewaan ‘Aisyah Radhiyallahu Anha

Bisa jadi, mayoritas orang akan mengira-ngira bahwa cinta Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada ‘Aisyah Radhiyallahu Anha karena kecantikannya saja. Karena akhlaknya yang luhur saja. Namun, rupanya kurang tepat lho! Sebab, istri Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang lain, yaitu: Zainab, Jumairiyah dan Shafiyah juga memiliki wajah cantik sebagaimana sejarah telah banyak menyebutkannya. 

Nah, hal yang membedakan ‘Aisyah Radhiyallahu Anha daripada Ummul Mukminin lainnya adalah ilmunya yang sangat matang dan luas tentang segala perkara yang berhubungan dengan agama, berupa: Al-Qur’an, tafsir, hadist dan fikih. Beliau juga matang dalam melakukan ijtihad dan meneliti berbagai permasalahan. Beliau juga mampu menyimpulkan hukum atas peristiwa-peristiwa yang baru. Inilah alasan dan wajar saja Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam lebih mencintainya. 


Ketika terjadi fitnah yang keji kepada ‘Aisyah Radhiyallahu Anha dalam bentuk haditsul ifki (berita bohong), Allah langsung yang membela beliau melalui Surah An-Nur ayat 11-20. Dalam peristiwa lain, kalung terjatuh dari leher ‘Aisyah Radhiyallahu Anha ketika kaum muslimin sampai di Dzatul Habisy. Kejadiannya di penghujung malam menjelang Subuh.


Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para sahabat berusaha untuk mencari kalung tersebut. Dalam proses pencarian itu, mereka tidak memiliki air dan tidak pula dekat dengan sumber air. Lalu, Allah menurunkan firman-Nya dalam Surah An-Nisa ayat ke-43 tentang tayamum apabila memang tidak memiliki atau jauh dari air. 


Kalung tersebut berhasil ditemukan. Tahu di mana letaknya? Rupanya, kalung itu berada di bawah unta yang sedang beristirahat! Tidak disangka bukan? Mungkin kejadian ini bisa menimpa kita, paling tidak ada miripnya. Sudah susah payah mencari, rupanya ada di dekat situ. Kunci motor misalnya. Tadi, baru saja datang, langsung taruh kunci sembarangan. Eh, mau dicari, lenyaplah dia. 


Atau, mencari pulpen sampai bilang setengah mati, eh, ternyata si pulpen sendiri diselipkan di telinganya. Hadeh… ! Tanpa sadar, ketika tadi ditaruh situ.


Kalau HP tidak ketemu, maka solusinya bisa pakai missed call ke nomor tersebut. Itupun bila barang itu tidak lowbat. Tapi, kalau kunci dan pulpen yang tidak ada, masa mau pakai missed call juga?!


Dari kisah tentang diturunkan perintah tayamum tersebut, bisa diambil kesimpulan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memang tidak mengetahui semua hal, kecuali yang sudah diwahyukan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Buktinya, kalung tersebut tidak diketahui letaknya oleh beliau. Jadi, kalau ada orang yang bilang bahwa dia tahu banyak tentang hal-hal tidak kasat mata atau barang yang tertutupi barang lain, maka mungkin perlu diperiksa kondisi kejiwaannya!


Kesimpulan Tentang Cinta

Cinta, oh, cinta…
Derita tiada pernah berakhir. 

Mungkin begitulah ucapan anak muda jaman now yang sangat mendewakan cinta. Mereka menggapai cinta tersebut dengan melalui pacaran misalnya, atau menyimpan cinta yang tidak langsung terwujud dalam kehidupan nyata. Cuma disimpan dalam hati, hem, apa enaknya?! Makanya bikin galau. Lebih bagus langsung diaplikasikan. Itu baru mantap! Tahu ‘kan maksudnya? Yap, tidak ada yang lain: Pernikahan!

Melihat kembali hadist yang pertama tadi, cinta yang dimaksud di sini adalah memilih dan mendaratkan cinta kepada orang-orang yang sholeh. Masih banyak kok orang sholeh di muka bumi ini, bahkan yang mungkin tinggal dekat dengan tempat Anda. Carilah mereka, dekati mereka dan bergabunglah di dalamnya. Mereka adalah orang-orang yang berusaha untuk menjalani hidup sesuai keinginan Allah, yaitu: beribadah kepada-Nya. 

Jika kita tidak merasa cinta kepada orang-orang sholeh dan komunitas mereka, lalu siapa lagi yang akan kita cintai? Anak band, pemain sepakbola, pembalap, artis Korea, Youtuber, artis TikTok atau yang mana? Bila dalam hari-hari mereka jauh dari Allah, eh, kita malah ikut gabung, maka siap-siaplah bisa jadi kita akan ikut arus. Tenggelam, terbenam, tersesat dan tak tahu arah jalan pulang.


Mungkin sebelumnya, kita cinta dengan orang-orang yang belum berhijrah, dan itu menjadi cinta pertama kita kepada sebuah komunitas. Namun, jadikan cinta terakhir kita kepada orang-orang yang mencintai Allah. Bertemu dan berpisah karena Allah. Hal yang disebutkan terakhir ini bisa menjadi penolong kita ketika di padang Mahsyar, saat tidak ada penolong selain Allah Ta’ala. 

Cinta yang berikutnya adalah cinta halal dan suci antara suami dan istri. Cinta yang membuat segala sesuatu dalam hubungan berwujud haram, menjadi bernilai ibadah di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Wujud cinta yang semacam ini, menjalaninya paling lama, sampai seumur hidup.


Bagi Ummul Mukminin ‘Aisyah Radhiyallahu Anha, cinta pertama dan terakhir dalam bingkai pernikahannya adalah dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Dunia dan akhirat. Setelah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam wafat, istri-istrinya tidak boleh dinikahi oleh orang lain.


Penyebabnya karena mereka disebut dengan Ummul Mukminin atau ibunya orang-orang beriman. Masa ada orang mau menikahi ibunya sendiri? Meskipun ibu di situ bukan karena nasab maupun sebab pernikahan, seperti ibu mertua.  


Alasan lain adalah istri akan bersama suami terakhirnya di dunia, ketika masuk surga nanti. Oleh karena itu, tidak akan mungkin ada laki-laki yang lebih baik daripada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Ummul Mukminin jelas akan memilih hidup di dalam surga bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam.


Begitu pula kita, sahabat muslim dan muslimah, meskipun banyak sekali dosa yang sudah dilakukan, pastilah masih terbersit dalam hati kita, untuk bisa punya kapling di surga. Meskipun, di dunia ini, ada yang menawarkan kapling perumahan mewah, di tempat strategis, harganya fantantis dan hari Senin naik itu, tetapi tetaplah kita merindukan surga yang lebih indah daripada apapun juga.


Wa’allahu alam bisshawab

Baca Juga: Ada yang Lebih Mengerikan Jika Diblokir!


Ditulis Oleh:
Rizky Kurnia Rahman, S. IP
(Anggota Departemen Infokom DPD Wahdah Islamiyah Bombana)

Sumber:
1. Ta’lim rutin bada Subuh, hari Selasa tanggal 25 Februari 2020, dibawakan oleh Ustadz Musmuliadi, SH, bertempat di Musholla DPRD Kabupaten Bombana dengan tema “Pembahasan Kitab Riyadhus Shalihin karya Imam Nawawi Rahimahullah.”
2. Buku “Sejarah Lengkap Kehidupan Ummul Mu’minin Aisyah Radhiyallahu Anha” karya Sulaiman an-Nadawi, diterbitkan oleh Qisthi Press, April 2018.
3. Situs https://muslimah.or.id/2844-hadits-mereka-dibangkitkan-berdasar-niat-masing-masing.html.
4. Situs https://muslim.or.id/52770-istriku-dengan-siapa-engkau-di-surga-nanti.html
5. Situs https://kisahmuslim.com/1738-kemuliaan-dan-keutamaan-aisyah.html.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here