Laris Sepanjang Masa

0
132

Sahabat muslim dan muslimah, ada satu pertanyaan untuk Anda semua. Pertanyaan ini cukup berkaitan dengan kepentingan kita dalam hidup, yaitu: menyangkut ilmu. Apa sih pertanyaannya? Coba Anda jawab dalam hati sendiri ya, kapan terakhir Anda pergi ke toko buku?

Mungkin di antara Anda ada yang menjawab, lho, Mas, di tempat saya tidak ada toko buku macam Gramedia begitu. Susah dijawab pertanyaan ini. Oh, berarti, kapan terakhir Anda pergi ke toko buku online? Nah, sama juga ‘kan?

Ketika saya berada di tempat tinggal yang sekarang, saya juga tidak menemukan adanya toko buku di sini. Namun, Alhamdulillah, tetap bisa menjangkau buku-buku bermutu melalui online. Tinggal lihat di toko dunia mayanya, pesan, bayar, ditunggu bukunya datang.

Bestseller

Mendengar kata “bestseller” biasanya erat kaitannya dengan toko buku yang saya maksud di atas. Beda memang antara bestseller dengan best teler. Kalau bestseller memang cocoknya untuk buku, sedangkan best teler bisa diartikan es teler yang paling enak, paling best, lah. Di mana itu ya?

Lanjut paragraf. Ada buku dari penulis papan atas yang diberi label bestseller, itu berarti sedang laris-larisnya. Mungkin karena temanya memang cocok dengan keadaan jaman now. Biasanya seputar percintaan muda-mudi. Buku yang membahas tentang kegalauan mereka yang sampai sekarang belum menikah.

Atau buku seputar bisnis online yang cukup marak belakangan ini. Saking banyaknya orang yang ingin jadi pengusaha online, rasa-rasanya lebih banyak penjual daripada pembelinya deh! Baiklah, buku-buku seperti itu dikatakan bestseller memang sementara waktu. Mungkin maksimal hanya beberapa bulan saja. Setelah itu digantikan dengan buku-buku lain. Selalu ada rotasinya.

Namun, tahukah Anda, bahwa ada buku yang akan selalu laris terus-menerus? Sampai sekarang penjualannya memang tidak tersaingi oleh buku apapun. Dan, buku yang dimaksud memang pantas bila disebut dengan kitab. Nah, dari sini, mulai ketahuan ‘kan? Yang saya maksudkan adalah kitab Al-Qur’an. Kitab ini akan selalu dibeli orang, dari masa ke masa. Silakan cek sendiri datanya.

Butuh dengan Adab

Al-Qur’an memang bukanlah seperti buku biasa. Kalau buku biasa, maka kita bisa membacanya dalam semua keadaan. Bahkan lebih seringnya saat kita tidak sedang dalam keadaan suci. Betul ‘kan? Habis buang angin berkali-kali, kita tetap bisa membacanya.

Selain itu, meletakkan buku lain juga sembarangan bisa. Mau di kamar tidur, di ruang tamu, di lantai, bahkan ada yang mungkin membawanya sampai ke kamar mandi atau di dalam WC. Hem, segitunya ya!

Akan tetapi, beda sekali dengan Al-Qur’an. Kitab ini isinya diturunkan dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Kitab suci bagi umat Islam. Namanya kitab suci, maka isinya disucikan dari kesalahan manusia. Bahkan, sampai hari kiamat nanti, Al-Qur’an sama sekali tidak ada perubahan.

Tidak ada yang namanya salah ketik, seperti yang terjadi beberapa waktu ini. Siapa ya yang salah ketik begitu? Itulah manusia, tempatnya salah. Al-Qur’an bukan dari manusia, jadi tidak mungkin salah. Kalau pun ada yang cacat dalam proses produksinya, pasti akan langsung cepat ditemukan. Tentang kemurnian Al-Qur’an ini, sesuai dengan dalil berikut:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan adz-Dzikr (al-Qur’an), dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menjaganya.” (al-Hijr/15:9)
Hal yang luar biasanya adalah Allah tidak cuma menjaga Al-Qur’an lho, tetapi juga hadist-hadist Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Oleh karena itu, tidak ada agama yang betul-betul terjaga kemurniannya melebihi Islam. Tidak ada sama sekali!
Lalu, sebagai bagian dari adab terhadap Al-Qur’an, maka kita memang harus dalam keadaan suci ketika memegang dan membacanya. Mungkin masih banyak orang yang belum tahu dalam hal ini. Mereka tanpa berwudlu terlebih dahulu, pegang Al-Qur’an. Misalnya, di toko buku mau mencari Al-Qur’an terbaru, semestinya mereka tetap dalam keadaan berwudlu.
لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ


“Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan.” (Q. S. Al-Waqiah ayat 79).

Hal tersebut sebagai adab. Bahkan, pegawai percetakan Al-Qur’an juga mesti berwudlu ketika memproduksinya. Pokoknya, lembaran-lembaran kertas ketika sudah bertuliskan Al-Qur’an, maka itu mesti dipegang dalam keadaan suci.

Bagaimana jika kita menyentuhnya tanpa keadaan berwudlu, tetapi cuma menyentuh bagian luarnya? Maka, untuk perkara ini, tidak apa-apa. Lebih bagus memang kita memiliki Al-Qur’an dengan bungkus ditambah dengan resleting. Mirip tas kecil. Selain terlihat lebih bersih, indah, juga menjaga Al-Qur’an dari tangan-tangan yang belum tersentuh air wudlu. Bukankah sekarang banyak sekali Al-Qur’an dengan model seperti itu? Silakan pilih saja yang Anda suka!

Kapan Sih Bisa Membacanya?

Mari kita lihat dalil dalam Al-Qur’an:
الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): ‘Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.'” (Q. S. Al-Waqiah ayat 79).

Selain itu, dalil juga yang berikut ini:

لِتَسْتَوُوا عَلَىٰ ظُهُورِهِ ثُمَّ تَذْكُرُوا نِعْمَةَ رَبِّكُمْ إِذَا اسْتَوَيْتُمْ عَلَيْهِ وَتَقُولُوا سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَٰذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ


“Supaya kamu duduk di atas punggungnya kemudian kamu ingat nikmat Tuhanmu apabila kamu telah duduk di atasnya, dan supaya kamu mengucapkan: ‘Maha Suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya.'” (Q. S. Az-Zukhruf ayat 13).

Dari dua ayat yang mulia tersebut, maka bisa kita ambil pelajaran bahwa membaca Al-Qur’an memang dalam semua keadaan. Boleh berdiri, berbaring, berjalan maupun di atas kendaraan. Mungkin kita pernah memahaminya dulu bahwa membaca Al-Qur’an itu harus dengan duduk bersila. Menggunakan tempat dari kayu untuk meletakkan mushaf. Kalau ada yang berbaring, langsung ditegur! “Baca Al-Qur’an kok gitu!” Mungkin begitu kalimat larangannya.
Padahal, kita boleh kok sambil berbaring. Misalnya, bagi yang belum menikah. Sebelum tidur, dia selalu teringat dan terbayang-bayang betapa enaknya menikah. Betapa nyamannya punya pasangan yang halal. Hidup akan jadi lebih bahagia. Separuh agama sudah disempurnakan. Wah, yang dipikir enak-enaknya saja! Tapi, ya, wajar kok karena menikah itu memang menyenangkan.
Alhasil, untuk bisa tidur nyenyak, sungguh hal yang sulit. Jadinya malah anemia, eh, insomnia. Karena terus teringat dengan semangat untuk mencari cinta sejati yang diridhoi Ilahi. Dalam kondisi begitu, alangkah lebih baiknya bila berbaring sambil membaca Al-Qur’an. Memegang mushaf sambil membaca ayat demi ayat. Jelas itu lebih berfaedah daripada pegang HP dan menjelajah ke sana-sini, medsos ini dan itu. Capek mata! Capek juga pikiran. Benar ‘kan?
Atau dalam keadaan lain, seperti Anda yang tinggal di kota-kota besar, macet selalu jadi makanan sehari-hari. Pagi macet, sore macet, waktu hari kerja macet, eh, ketika liburan, macet juga! Stres, jengkel dan sebal. Namun, mau bagaimana juga? Sudah memang seperti itu kondisinya.

Dari situ, kita memang sulit sekali mengontrol keadaan di luar diri. Hal yang bisa kita lakukan adalah membuat kontrol atas diri kita. Ketika macet, maka manfaatkan dengan baik. Misalnya, dengan membaca Al-Qur’an. Ini didasari ketentuan atau kaidah bahwa membaca Al-Qur’an boleh sambil di atas kendaraan. Membaca Al-Qur’an di dalam mobil mewah jelas boleh-boleh saja. Sebab amalannya pun termasuk “mewah”. Yakinlah tidak banyak orang yang membaca Al-Qur’an di atas kendaraan.  

Akan tetapi, menerapkan dalil ini juga perlu mementingkan keselamatan dalam berlalu lintas. Lebih bagus ketika di dalam mobil kita yang jadi penumpangnya, sehingga perhatian tidak terlalu terfokus dengan jalan, karena ada sopirnya. Ketika naik sepeda motor, mungkin dengan membaca dari hafalan kita. Maka, memang beruntunglah mereka yang banyak hafalan Al-Qur-annya, jadi tetap bisa murojaah ketika kondisi macet, saat banyak orang pikiran terasa mampet.

Berusaha Untuk Terus Menemukan Keindahan Al-Qur’an

Ketika ada suatu acara besar di masjid, ada kalanya kita memang perlu untuk ke belakang alias ke kamar mandi. Pada tempat tersebut, waduh, rupanya sedang banyak orang. Mengantri! Kita sudah membawa Al-Qur’an dari rumah. Dan, Al-Qur’an tersebut spesial bagi kita. Mungkin itu hadiah yang sangat indah dari suami atau istri kita. Apalagi desainnya sangat menarik, menawan, mempesona dan tentu saja juga mempesona orang yang memberikannya. Ehem..

Kita mau ke kamar mandi, tetapi khawatir Al-Qur’an tersebut akan hilang? Lalu, bagaimana dong? Untuk jawaban ini, maka kita bisa minta teman sebagai tempat titip. Jika tidak ada sama sekali, maka diperkenankan untuk membawanya ke dalam kamar mandi. Namun, kondisi ini adalah sangat darurat. Al-Qur’an dimasukkan ke dalam tas yang tertutup rapat. Sekali lagi, ini sangatlah darurat. Kita berusaha untuk tidak sampai melakukan yang demikian, kalau tidak terpaksa sekali.

Bagaimanapun, Al-Qur’an tetaplah ada di dalam hati umat Islam. Sebab, Al-Qur’an ini adalah mukjizat dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang masih ada sampai sekarang ini. Mukjizat dari nabi-nabi lain sudah lenyap seiring dengan meninggalnya nabi-nabi yang bersangkutan. Namun, Al-Qur’an tidak. Mukjizat ini akan terus ada dan eksis sampai hari kiamat.

Nah, pertanyaan selanjutnya, maukah kita untuk tetap dan terus menikmati pesona dan indahnya Al-Qur’an sesuai dengan yang diajarkan agama ini? 

Wa’allahu alam bisshawab

Sumber:
1. Ta’lim rutin dengan tema “Adab Seorang Muslim” yang dibawakan oleh Ustadz Darlan Bakri, S.H (alumnus Sekolah Tinggi Ilmu Islam dan Bahasa Arab Makassar), bertempat di Masjid Haqqul Yaqin, Kelurahan Lameroro, Kecamatan Rumbia, pada tanggal 19 Februari 2020. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here