Ketika Tidak Mau Berhukum dengan Hukum Allah, Apakah Kafir?

0
104

Hukum adalah sesuatu yang melekat dalam kehidupan kita. Dan, sebagaimana kita tahu sejak sekolah dulu bahwa hukum di dunia ini banyak sekali. Ada hukum manusia, ada pula hukum Allah. Jelas dalam hal ini, hukum Allah adalah yang paling tinggi. Namun, bagaimana dengan orang yang tidak mau berhukum dengan hukum Allah? Apakah bisa dikatakan kafir?

Ada yang Lebih Mengerikan Daripada Syirik!

Tauhid memang menjadi lawan dari perbuatan syirik. Mengacu kepada jenis-jenis tauhid ada tiga, yaitu: rububiyah, uluhiyah dan asma wa shifat. Tauhid rububiyah berkaitan dengan perbuatan-perbuatan Allah. Contohnya, Allah yang menghidupkan, mematikan, mengatur alam semesta, memberikan rezeki, memberikan nikmat dan lain sebagainya.

Orang-orang kafir Quraisy paham dengan tauhid rububiyah tersebut. Namun, mengapa mereka masih dikatakan kafir? Sebab, yang tidak mereka terapkan adalah tauhid yang kedua, yaitu: tauhid uluhiyah. Tauhid ini didasarkan pada perbuatan-perbuatan hamba kepada Allah. Tentu contohnya adalah beribadah cuma kepada Allah, berdoa kepada Allah, meminta pun kepada Allah. Sementara orang-orang kafir Quraisy mengaku menyembah Allah, tetapi juga menyembah berhala.

Baca Juga: Penyesalan yang Sia-sia

Bagaimana sih bentuk berhala jaman now? Contoh paling nyata adalah kuburan. Padahal kuburan itu adalah benda mati, isinya pun orang yang sudah mati. Namun, masih disembah juga. Beribadah di situ, meminta juga di situ. Padahal, orang yang sudah meninggal belum tentu bisa menyelamatkan dirinya sendiri di alam kubur, apalagi orang yang masih hidup.

Makanya, ada yang bertanya ke Ustadz Harman Tajang, Lc, M.H.I bagaimana hukumnya membaca Al-Qur’an di depan jenazah? Jawabannya adalah membaca Al-Qur’an saja di depan ustadz yang masih hidup agar bisa diperbaiki bacaannya. Jawaban yang pas bukan? Atau ketika pertanyaan lain, tentang orang yang patah hati. Solusinya, bawa saja ke tukang urut, sebab tukang yang satu itu memang terbiasa untuk menyembuhkan anggota badan yang patah.

Sedangkan tauhid asma wa shifat berkaitan dengan nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Lalu, kaitannya dengan lawan tauhid, yaitu syirik, rupanya ada yang lebih mencengangkan efeknya daripada syirik. Bahkan termasuk dosa yang paling besar. Lho, bukankah syirik itu adalah dosa besar yang paling besar? Apakah sih perbuatan yang menyaingi syirik tersebut?

Ini masih ada kaitannya dengan ta’lim rutin pekan lalu, yaitu: membenarkan pendapat ulama atau ustadz, padahal bertentangan dengan hukum Allah. Sudah dibenar-benarkan, disebarkan pula. Mengapa bisa lebih besar daripada syirik? Sebab perbuatan tersebut seolah-olah membuat hukum baru. Allah sudah halalkan, eh, mereka haramkan. Begitu pula sebaliknya.

Taghut adalah segala sesuatu yang disembah selain Allah. Dalam hal ini, perkataan ulama maupun ustadz yang bertentangan dengan hukum Allah, maka pantas dikatakan taghut juga.

Bentuk-bentuk Hukum

Islam memang mengatur kehidupan manusia dengan sangat jelas dan super lengkap. Sejak dari bangun tidur, sampai tidur kembali, bahkan tidur itu sendiri, semuanya sudah termaktub dalam hukum Islam.

Bagi seorang pribadi, hukum Allah sudah berlaku. Apa contohnya? Beribadah kepada Allah, paling jelas sholat misalnya. Aturan sholat telah menjadi hukum Allah. Tidak boleh dong karena saking semangatnya, ah, masa sholat Subuh cuma dua rakaat? Tambah dong, kan badan masih segar. Hal itu jelas tidak berpahala, malah akan mendatangkan dosa bagi pelakunya. Apalagi yang tidak sholat. Waduh!!

Baca Juga: Valentine dan Tradisi Remaja-remaji

Hukum Allah juga berlaku bagi keluarga kita. Semua orang ‘kan berasal dari sebuah keluarga. Ya apa ya? Hubungan antara suami dengan istri, orang tua dengan anak, semuanya ada dalam hukum Islam. Begitu juga dengan hubungan lebih luas, antarmanusia, dalam kehidupan masyarakat. Jelas juga ada aturannya dalam Islam.

Lalu persoalannya adalah ada orang yang menganggap kafir orang yang berhukum bukan dengan hukum Allah. Wah, serius itu! Kita lihat pembahasan selanjutnya. Silakan sambil minum kopi juga boleh.

Sudah Dari Zaman Dulu

Fenomena jaman now, sampai mengkafirkan pemerintah, termasuk aparat-aparatnya karena tidak berhukum dengan hukum Allah, memang masih ada. Mulai kapan sih hal itu terjadi? Kita bisa melihat dalam sejarah Islam. Waktu itu, masih banyak sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang hidup.

Muncul pertentangan sampai dengan peperangan antara Muawiyah radhiyallahu anhu dengan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu. Agar bisa selesai pertikaian tersebut, dilakukanlah perundingan. Muawiyah radhiyallahu anhu mengutus Amr bin Ash radhiyallahu anhu. Sedangkan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu mengutus Abu Musa Al-Asyari radhiyallahu anhu.

Orang-orang Khawarij yang tidak setuju dengan perundingan tersebut melancarkan perlawanannya. Menurut mereka, seharusnya masalah perselisihan tersebut dikembalikan kepada aturan Allah dan Rasul-Nya. Bukan diserahkan kepada dua orang itu. Dari situlah, mereka dikatakan ke luar dari jamaah kaum muslimin yang lurus.

Namanya saja khawarij, dari kata “khuruj” yang artinya ke luar. Kalau ke luar dari jamaah kaum muslimin, terus mau masuk jamaah mana lagi ya?

Bagaimana dengan sekarang? Kita ambil contoh ISIS. Ini adalah kelompok bersenjata yang ada di Timor Tengah sana, bukan singkatan yang diucapkan seorang ustadz di sebuah TV dakwah. Katanya ISIS itu berarti Ikatan Suami Istrinya Satu. Kalau yang ini sekadar jadi bahan perenungan saja.

Jadi, kita jangan heran kalau sampai pemerintah dikafirkan karena menerapkan hukum-hukumnya dianggap tidak sesuai syariat Islam. Bahkan tidak cuma pemerintah, anggota dewan pun kena. Penyebabnya, ikut membuat peraturan-peraturan tersebut. Hal yang lebih lucu adalah tidak cuma anggota dewan, bahkan seluruh pegawai sampai staf. Lengkap deh! Tidak ada yang ketinggalan.

Rupanya, serangan tersebut diibaratkan dengan riba atau dalil tentang keharaman riba. Tidak cuma yang memberi, tetapi juga yang menerima, mencatat, bahkan saptam, eh, satpam ikut kena. Wah, penyamaan antara dalil tentang riba dengan orang yang tidak berhukum dengan hukum Allah pada paragraf sebelumnya, memang terasa janggal dan kurang masuk akal.

Padahal yang Sebenarnya Bagaimana?

Tidak berhukum dengan hukum Allah memang termasuk perbuatan kufur, tetapi yang dimaksud di situ adalah kufur kecil atau tidak sampai dianggap kafir yang ke luar dari Islam. Kita sebagai kaum muslimin memang rindu dan ingin menerapkan hukum Islam. Hukum hudud misalnya potong tangan bagi yang mencuri, memang ingin kita lihat penerapannya di negara ini agar kondisi lebih aman bagi masyarakat. Ini mencuri barang lho, bukan mencuri hati seperti anggapan anak muda yang jomblo.

Namun, kita dilanda ketidakmampuan untuk melaksanakan hal tersebut. Sebab menghukum memang menjadi domain dari pemerintah. Hal yang bisa kita lakukan adalah menerapkan hukum Islam untuk pribadi dan hubungan antarsesama manusia sesuai dengan kemampuan kita.

Baca Juga: Lebih Mengenal Untuk Apa Kita Diciptakan

Kita juga mesti ingat bahwa tidak boleh menolak hukum-hukum Allah. Menurut Ustadz Dr. Firanda Andirja, Lc, MA, bahwa serangan terhadap hukum Islam itu cuma dua, yaitu: hukum waris dan hukum poligami. Hukum waris mengacu kepada pembagian warisan yang “dirasa” tidak adil. Perempuan kok dapat satu, sedangkan laki-laki dapatnya dua? Bagi kaum liberal, hal itu seharusnya sama, antara laki-laki dan perempuan.

Sedangkan tentang hukum poligami, hem, kita bisa lihat dan amati sendiri, bahwa poligami adalah anugerah Allah yang tersakiti. Hukum ini adalah dari Allah, tetapi masih banyak pula yang menentang, bahkan mencela. Katanya, itu mendzalimi perempuan. Memang, kalau toh dalam prakteknya itu ada penyimpangan, maka jangan salahkan poligaminya. Sebab di situ yang berperan adalah pelakunya itu sendiri. Dan memang tidak dipungkiri, masih banyak praktek yang salah.

Jika ada muslimah yang seakan-akan menolak poligami, jangan langsung disalahkan. Dianggap istri yang tidak patuh pada aturan Islam. Istri yang tidak taat. Bahkan, di media sosial, ada semacam gurauan, tetapi berupa pertanyaan: Apakah istri yang tidak setuju poligami, layak untuk diceraikan? Hey, ini pertanyaan yang cukup ngawur sebenarnya! Ya apa tidak?

Istri yang tidak menginginkan poligami memang tidak selalu dikatakan menolak 100%. Poligami ini sudah selesai, artinya memang dibolehkan. Namun, bagi yang tidak mau poligami, memang hasrat dan keinginannya punya suami yang tidak mau berbagi saja. Maunya suami itu untuk dia saja, jangan ke yang lain. Dan, ini wajar karena tabiat sebagian besar perempuan memang begitu.

Atau yang menjalankan poligami, langsung dibully habis-habisan. Padahal, yang menjalankan poligami juga bukan dia. Itu ‘kan urusan rumah tangga orang lain, kok malah ikut campur? Ngapain sih pake kepo segala? Hal ini mudah ditemukan ketika ada status atau postingan tentang poligami. Biasanya, cukup banyak kalangan ibu atau emak-emak yang mengkritik tentang hukum tersebut.

Pada dua hukum Islam yang dicela, yaitu: hukum waris dan poligami, hal tersebut dilakukan para musuh Islam sebab mereka sadar, ketika dua hukum sudah diragukan, maka hukum yang lain juga akan begitu. Jadi, mereka tidak perlu repot-repot menyerang semua hukum Islam. Disayangkan memang jika kaum muslimin sendiri meragukan, mengkritik, bahkan mencela hukum-hukumnya sendiri karena terpengaruh musuh-musuh Islam.

Hukum Islam yang jika diterapkan betul-betul, hasilnya akan positif dalam kehidupan masyarakat, salah satunya adalah tidak boleh menikahkan sementara hamil. Ketika menikah sementara yang perempuan hamil sekadar untuk menutupi aib, maka hal tersebut memang tidaklah benar.

Solusi yang lebih baik adalah menunggu dulu sampai lahir, baru menikah. Itupun sang anak tidak bisa dinasabkan dengan si laki-laki. Tidak bisa jadi wali dan tidak mendapatkan warisan. Sebab anak yang diakui dalam Islam adalah anak setelah menikah. Sebelum menikah, hamil, maka dikatakan anak di atas kasur.

Atau bagi yang berzina, selama dia belum pernah menikah, maka dihukum cambuk. Sedangkan bagi yang sudah menikah, dihukum rajam. Musuh Islam menganggap bahwa hukuman itu kejam. Lho, kejam bagaimana? Allah ‘kan sudah menciptakan hukum tersebut dan memang paling pas untuk manusia, kok masih dibilang kejam?!

Lingkungan Memang Penting!

Dari kejadian perempuan hamil di luar nikah karena zina, maka penyebabnya yang dirasa paling besar adalah karena pengaruh lingkungan. Awalnya si anak muda dalam keadaan yang baik, sopan, ramah, pokoknya menyenangkan, lah. Namun, karena salah dalam pergaulan, maka ikut terjerumus salah.

Contohnya, bergaul dengan teman-teman yang merokok. Tadinya memang tidak merokok, tetapi karena dipengaruhi terus, merasa tidak enak, niatnya mau coba-coba, atau malah takut diancam atau dibully, maka mulailah merokok. Menghisap satu atau dua kali. Lama-kelamaan makin banyak dan pada akhirnya kecanduan. Mari kita simak hadis berikut ini:

Dari Abu Musa Al-Asy’ariy radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً ، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَة

“Permisalan teman duduk yang shalih dan buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan tukang pandai besi. Adapun penjual minyak wangi, bisa jadi ia akan memberimu minyak wangi, atau kamu akan membeli darinya atau kamu akan mendapat bau harum darinya. Adapun tukang pandai besi, bisa jadi ia akan membuat pakaianmu terbakar, atau kamu akan mendapat bau yang tidak sedap darinya.” (HR. Bukhari No. 2101, Muslim No. 2628).

Mengacu kepada dalil yang mulia tersebut, ada orang tua yang memasukkan anaknya ke pesantren semata-mata agar lebih bisa menjaga anaknya. Dulu mungkin anak-anak nakal dimasukkan ke pesantren agar jadi baik. Sekarang yang baik-baik masuk pesantren agar jadi lebih baik dan terhindar dari pengaruh-pengaruh buruk teman sebayanya. Meskipun ketika sudah berada di dalam, pengaruh buruk bisa jadi masih ada, tetapi itu lebih baik daripada di lingkungan pergaulan bebas.
Termasuk dalam hal ini adalah memandang kerasnya atau sampai pemerintah dikatakan kafir karena tidak berhukum dengan hukum Allah. Tugas pemerintah memang membuat hukum. Contohnya: hukum tentang membuat SIM atau STNK. Hukum tersebut jelas tidak ada di dalam Al-Qur’an dan hadits, tetapi toh dibuat juga ‘kan?
Atau hukum lain adalah wajib memakai helm bagi pengendara sepeda motor. Dikatakan wajib karena jika melanggar, akan kena hukuman. Tilang misalnya. Setelah itu bayar denda, ke luar uang lagi. Bukankah lebih baik daripada ke luar uang yang notabene jumlahnya lumayan besar, apa salahnya sih pakai helm? Itu ‘kan untuk melindungi keselamatan si pengendara sendiri.
Sampai di sini, yang perlu diperhatikan memang kadar dari tauhid kita. Menyangkut tauhid uluhiyah dan rububiyyah Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Bagi yang menganggap bahwa harus berhukum dengan hukum Allah, itu memang benar. Namun, bagi yang belum bisa melaksanakannya, jangan langsung dianggap kafir. Karena hal tersebut bergantung pada banyak faktor.
Saat pemerintah sudah sadar dengan hukum Islam secara total ini, lalu tiba-tiba akan menerapkan hukum tersebut, apakah langsung berhasil? Belum tentu! Sebab hal itu dibutuhkan kesiapan dari para aparatnya. Jika yang di bawah belum siap, maka menerapkan hukum Islam akan menemui ganjalan tersendiri. Bahkan, yang lebih parah, justru pemerintah tersebut akan diperangi sendiri oleh anak buahnya. Mengerikan bukan?

Baca Juga: Ternyata Selevel!

Wa’allohu alam bisshowab

Sumber:

1. Ta’lim rutin tema “Tauhid” oleh Ustadz Akbar Jabba, S.Pd.I (Ketua DPD Wahdah Islamiyah Bombana) pada hari Selasa, tanggal 18 Februari 2020 di Masjid An-Nur, Ponpes Al-Wahdah Bombana. 

2. https://muslimah.or.id/2755-lihatlah-siapa-temanmu.html


3. https://web.facebook.com/abu.assiddiiq/posts/968308093613532

4. https://rumaysho.com/928-menikahi-wanita-hamil-karena-zina.html

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here