Valentine dan Tradisi Remaja-remaji

0
106

Hem… Tanpa terasa sudah masuk tanggal 14 Februari 2020. Waktu memang cepat berlalu, yang lalu terasa baru saja memasuki tahun 2020, kok sekarang sudah bulan kedua saja. Apakah Anda juga merasa begitu? Kalau merasa begitu, berarti kita sudah melakukan apa saja ya selama ini, kok bisa tidak terasa?

Valentine dan Sebungkus Coklat

Mendengar kata “Valentine” memang selalu rutin terdengar di tanggal 14 Februari. Sebuah tradisi yang diambil dari orang-orang kafir untuk merayakan hari kasih sayang. Konon katanya, pada tanggal tersebut diungkapkan banyak cinta kepada sesama. Biasanya sih kepada pasangan muda-mudi, remaja-remaji. Lebih masuk lagi kepada mereka yang pacaran sebelum menikah.

Saya memang tidak menuliskan sejarah Valentine secara panjang lebar, meskipun memang panjang dikali lebar itu adalah luas! Anda bisa membaca sejarah Valentine di sini. Perayaan Valentine identik dengan sesuatu yang berbau cinta. Misalnya: mawar merah, kado cantik maupun coklat batangan.

Makanya, saya cukup heran, ketika ada sebuah produk coklat terkenal di sebuah minimarket modern, ada promo beli dua, gratis satu, ternyata dalam rangka untuk menyambut Valentine. Subhanallah. Mungkin banyak orang yang sudah membeli produk tersebut. Dan, mereka jadi tahu, ada promo seperti itu, maka kesempatan emas untuk memberikannya pas momen Valentine.

Apakah Merayakan Cinta Ketika Valentine?

Anak-anak muda kita jaman now, sudah lama memang merayakan Valentine ini. Bahkan, tempat-tempat semacam hotel, kafe, warung makan atau mall selalu menyambut Valentine dengan penawaran-penawaran yang cukup menggiurkan, bagi yang mau tergiur lho! Namanya juga bisnis, memanfaatkan momen untuk mendapatkan uang lebih banyak.

Ketika Valentine dikatakan sebagai hari kasih sayang, maka di situlah musibah dimulai. Hubungan cinta antara laki-laki dengan perempuan memang sesuatu yang normal dan wajar adanya. Ketertarikan itu tidak hanya antara laki-laki awam dengan perempuan awam, tetapi juga antara ikhwah dengan akhwat yang notabene adalah aktivis dakwah. Masing-masing. Oleh karena itu, diwadahilah dengan pernikahan. Anda sendiri yang baca ini sudah menikah belum?

Namun, perkara menikah itu memang tidak gampang. Bahkan, sangat tidak gampang. Fisik sudah siap, dari segi kemampuan penghasilan mungkin juga sama. Akan tetapi, masalah selalu ada yang muncul. Salah satunya, adalah biaya pernikahan itu sendiri. Apalagi di tempat saya tinggal sekarang ini, biaya tersebut yang dikenal sebagai uang panaik justru makin naik. Ya, dari namanya saja sudah uang panaik, wajar jika makin naik.

Kesiapan laki-laki muslim untuk menjemput jodohnya, akhwat yang Insya Allah sholihah, tidak serta-merta berjalan mulus layaknya jalan tol itu. Dan, akhirnya ada yang dalam keadaan demikian, menunda diri untuk melangsungkan pernikahan. Entahlah, mau sampai kapan hal itu terjadi? Saya sendiri juga bingung.

Ketika kesempatan untuk menikah atau meraih cinta yang halal, sementara hasrat makin terasa berat, lalu apa solusinya? Bagi pemuda muslim yang benar, maka diajarkan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam untuk berpuasa. Memperbanyak puasa. Bagaimana dengan pemuda awam? Remaja yang masih jauh dari agama. Mereka akan melarikan syahwatnya dengan jalan bernama pacaran. Ya, pacaran.

Lucunya, masih banyak gadis yang terpikat dengan pacaran ini. Mereka melihat si laki-laki mempunyai wajah yang ganteng, cakep, mungkin putih, mirip artis Korea itu lho! Padahal dari segi kemampuan kantong, masih sering kosong. Uang juga dari orang tuanya. Kendaraan juga. Lalu, apa yang dibanggakan dari laki-laki itu? Pekerjaan juga masih luntang-lantung. Lebih suka rebahan. Hem, berat memang!

Jika sudah masuk ke dalam pacaran, maka bersiaplah untuk terus meluncur melewati tahap demi tahap. Awalnya dari kenal di dunia maya misalnya. Terlebih jika memang si perempuan itu bernama Maya. Biasa-biasa saja pertama. Seiring waktu, chat mulai meningkat. Pada akhirnya, panggilan pun bisa berubah “sayang” maupun “cinta”.

Tidak cuma di dunia maya, lanjut ke dunia nyata. Dan, tahapan terus berjalan. Sampai akhirnya dan akhirnya, terjadilah perzinahan. Hal tersebut tidak cuma terjadi sekali maupun dua kali, tetapi sudah banyak sekali kali. Wah, bagaimana kalimatnya itu ya?!

Fenomena sampai terjadinya aborsi disebabkan oleh perzinahan tersebut. Coba, berapa banyak pasangan suami istri yang sangat mendambakan anak? Sementara remaja-remaji itu tersenggol sedikit saja, langsung tampak hasilnya. Karena usia yang masih sangat muda, malu jelas akan menghampiri jika sampai ketahuan hamil di luar nikah. Aborsi menjadi jalan terakhir. Padahal resikonya jelas sangatlah besar. Dunia dan akhirat.

Halalkan Atau Tinggalkan

Setahu saya, yang namanya cinta adalah rasa saling menjaga, melindungi dan meningkatkan kualitas orang yang dicintainya. Suami istri memang cocok dalam urusan ini. Suami menjaga istrinya untuk jangan sampai sekalipun terlihat auratnya oleh laki-laki yang bukan mahrom.

Sedangkan si istri juga menjaga suaminya untuk menundukkan pandangan, jangan sampai tertarik dengan perempuan lain. Makanya, istri berusaha tampil cantik dan menarik semaksimal mungkin. Tetapi ‘kan, itu juga dari uang suami. Sudah ada biaya perawatan kecantikan untuk istri belum? Jangan-jangan maunya cantik seperti artis, tetapi uang untuk beli kosmetik sangatlah menipis. Aduh, miris!

Kembali kepada lawan jenis yang kita suka, kalau bisa dihalalkan, maka silakan dihalalkan. Tempuh jalur yang benar sesuai hukum agama Islam dan hukum negara Republik Indonesia. Datang ke KUA terdekat dan jalani prosesnya. Kalau memang mau ke pengadilan agama terlebih dulu sebelum ke KUA, juga boleh. Terserah masing-masing saja, lah. Anda pasti tahu yang disebutkan terakhir ini ‘kan?

“Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu… ” (Q. S. An-Nur ayat 32).

Jika tidak bisa dihalalkan, maka ditinggalkan saja! Memang terasa berat bagi yang sudah terbiasa menjalaninya. Namun, kembali kepada perkara kejantanan bagi seorang laki-laki. Bila masih terus dalam keadaan seperti itu, maka akan mudah untuk melambungkan janji-janji palsu. PHP. Pemberi Harapan Palsu.

Janjinya untuk menikahi bulan depan, dua bulan lagi, enam bulan lagi, tahun depan, aduh, sampai kapan terus begitu? Sementara ada laki-laki lain yang sholeh datang dan langsung memancangkan lamaran. Masa yang begitu mau ditolak dan berharap kepada janji cinta yang tidak pasti? Kalau hal itu dilakukan, maka sepertinya perlu dicek kadar kesehatan si perempuan deh!

Sebuah status di Facebook mengatakan bahwa Valentine bukanlah budaya kita, karena budaya kita itu adalah hutang, tetapi lupa bayar. Wadaw! Dan, tentang sebatang coklat tersebut, lebih bagus mungkin dijadikan mahar saja. Lebih halal dan terasa lebih romantis, apalagi jika pengantin baru memakan satu batang coklat itu bersama-sama.

Ah, tidak usah diceritakan di sini! Bagi yang sudah menikah, hal itu bisa dipraktekkan. Bahkan, yang lebih dari itu, juga silakan. Sudah halal, halal dan halal. Anda sendiri bagaimana? Sudah atau belum?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here