The Central of Point

0
114

Rangkuman ta’lim rutin kali ini sengaja memang mengambil judul dalam Bahasa Inggris. Sekadar ingin tampil sedikit berbeda dan menambah pengetahuan. Arti dari judul tersebut adalah poin sentral. Tentunya, ini berbeda dengan pasar sentral. Pasar yang mungkin saja cukup jauh dari tempat tinggal Anda.

Apakah Anda Pernah ke Sana?

Ketika pertanyaan seperti tersebut di atas dilemparkan kepada seseorang, misalnya: Apakah pernah ke Jakarta? Bisa jadi, jawabannya adalah sudah atau belum. Kalau sudah, berarti pernah menginjakkan kaki di daerah ibukota negara tersebut. Jika belum, boleh juga bermimpi suatu saat bisa ke sana juga.

Biasanya, suatu daerah itu punya poin sentralnya. Titik pusat perhatian. Titik tersebut menjadi ciri khas dari daerah yang dikunjungi. Jakarta contohnya. Kurang afdhol jika datang ke Jakarta belum pernah masuk Monas. Betapa megahnya bangunan yang sudah didirikan sejak zaman Orde Lama tersebut.

Baca Juga: Ada yang Lebih Mengerikan Jika Diblokir!

Kota lain, Jogja misalnya. Belum dianggap pernah ke Jogja bila belum pernah ke Malioboro. Makanya, orang yang ke sana berfoto di bawah papan bertuliskan Malioboro tersebut. Sekadar tanda sudah pernah ke sana. Kemungkinan besar foto tersebut disebarkan pula lewat media sosial. Eksis dan narsis. Dua hal yang sering dilakukan pengguna internet aktif alias warganet.

Lalu, kaitannya dengan tulisan ini apa? Mau mengajak rihlah atau berwisata? Oh, belum sampai ke arah sana. Namun, yang ditekankan adalah tentang taman-taman surga di dunia ini. Apalagi kalau bukan majelis-majelis ilmu syar’i? Tempat seorang muslim menimba ilmu, mendengarkan ayat-ayat Al-Qur’an, bersholawat kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam saat nama beliau disebut. Dan lain sebagainya.

Menurut ulama, siapa yang belum pernah hadir di salah satu taman surga di dunia ini, maka nantinya tidak akan masuk ke taman surga yang sebenarnya di akhirat. Majelis ilmu syar’i. Majelis ta’lim. Itulah poin sentralnya. Jadi, bersyukurlah kepada Allah jika kita cukup sering menghadiri majelis ilmu syar’i, semoga taman-taman yang sebenarnya di surga nanti bisa kita masuki. Aamiin.

Masih Tentang Poin Sentral

Dalam agama Islam yang mulia ini, apa sih poin sentralnya? Dari rukun Islam, maka yang ditekankan setelah syahadat adalah sholat. Jenis ibadah yang sangat besar keutamaannya. Sangat luar biasa efeknya di dunia dan akhirat. Bentuk ibadah dengan faidah yang sangat besar. Namun, sayangnya, seringkali ditinggalkan oleh banyak muslim sendiri!

Membahas ibadah sholat memang bisa menghabiskan waktu yang cukup panjang dan lama. Ibadah ini yang diturunkan langsung dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Tanpa perantara Malaikat Jibril Alaihis Salam.

Dalam pelaksanaannya, agar bisa betul-betul bernilai ibadah dan besar pahalanya, maka harus mengikuti tuntutan dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Tidak bisa sembarangan, apalagi ikut-ikutan orang. Belum tentu orang yang diikuti itu benar. Kalau ternyata salah, maka ibadah sholat kita bisa ikut rusak.

Baca Juga: Menjadi Asing Tetapi Berilmu

Selain itu, saat melaksanakan sholat, memang jangan cuma berpikir sekadar sholat. Atau sekadar menggugurkan kewajiban saja. Ada hal yang perlu untuk diperjuangkan dalam sholat tersebut, yaitu: kekhusyukan!

Sholat yang khusyuk itu akan didapatkan ketika kita merasa tenang, nyaman, bahagia dan nikmat luar biasa. Untuk bisa mencapai hal ini, jelas tidaklah mudah. Butuh mujahadah dan istiqomah yang tidak sebentar. Itulah poin sentral dari sholat, yaitu: khusyuk, sebagaimana sholat menjadi poin sentral dari agama Islam yang mulia ini.

Meraih Sholat yang Khusyuk

Pahala sholat itu bisa bermacam-macam. Ada yang mendapatkannya sepersepuluh, sepersembilan, seperdelapan. Pahala yang paling besar adalah setengah. Untuk bisa mendapatkan sempurna atau 100% itu tidak mungkin, terlebih bagi umat masa sekarang.

Lalu, bagaimana cara mendapatkan sholat yang khusyuk tersebut? Berikut beberapa kiatnya:


Hadirkan kematian di depan mata kita ketika sholat

Saat berpikir tentang kematian ini, bisa dibayangkan seandainya kita sudah tahu jam atau waktu akan meninggal dunia. Maka, mungkin saja, sholat terakhir kita akan menjadi sholat yang betul-betul khusyuk.

Mungkin selama ini kita masih belum khusyuk karena berpikir, ah, nanti juga sholat lagi kok. Ketika sholat Subuh, toh nanti akan sholat Dzuhur. Saat Dzuhur, nanti Ashar. Begitu seterusnya. Selalu merasa ada waktu terus. Pada keadaan tersebut, menghadirkan kematian dalam sholat menjadi sangat kurang. Akhirnya, sholat pun berantakan. Tidak fokus. Tidak khusyuk.

Pahami bacaan sholat dan maknanya

Meskipun sholat itu dilakukan dengan Bahasa Arab, tetapi bisa kita ketahui arti dan makna bacaannya. Mungkin memang belum bisa dimengerti semuanya, tetapi ada beberapa yang bisa kita tahu. Misalnya, takbiratul ihram.

Saat keadaan tersebut, yang kita baca adalah Allahu Akbar. Bisa kita mulai khusyuk dari sini dengan memahami betul bahwa Allah itu Maha Besar. Maha Kuasa. Maha segalanya. Tidak ada yang setara dengan Allah. Kita sebagai makhluk dan hamba-Nya sangatlah kecil di hadapannya. Tidak ada apa-apanya sama sekali.

Dari pemahaman seperti itu saja, maka kita sudah langsung merasa kecil di hadapan Allah. Tidak ada gunanya kita sombong di dunia ini, toh yang kita punya segalanya dari Allah. Dalam bacaan selanjutnya, doa iftitah, kita meminta Allah agar mengampuni dosa-dosa kita. Apalagi ditambah dengan Al-Fatihah, dan seterusnya, dan seterusnya sampai dengan salam.

Seluruh rangkaian sholat itu sudah paten. Sama setiap hari. Tidak ada yang ditambahi. Tidak ada yang dikurangi. Meskipun sama begitu terus, sebagai muslim, kita tidak merasa bosan. Batin kita untuk kembali sholat terus terpatri dalam hati. Kalau sudah seperti ini, maka kembali bersyukur kepada Allah. Sebab Allah tidak memberikan hidayah tersebut kepada semua orang.

Apakah Allah menjadikan kita sebagai bagian dari poin sentral di antara kaum muslimin yang lainnya atau orang-orang yang dimuliakan Allah? Semoga kita terus berharap seperti itu. Dan, yang harus kita ingat dan berpikir, apakah sholat kita ini sudah bisa mengantarkan diri ke surga? Apakah dengan sholat tersebut, membuat Allah mengampuni dosa-dosa kita? Dua pertanyaan yang butuh jawaban dalam proses yang tidak mudah.

Wa’allohu alam bisshawab.

Baca Juga: Bersama Teman Sampai ke Ujung, Apakah Beruntung?

Sumber:
Ta’lim rutin dengan tema “Fiqih Praktis” pada tanggal 14 Februari 2020 di Masjid Rahmatusa’ada, Kelurahan Kampung Baru, dibawakan oleh Ustadz Akbar Jabba, S. PdI (Ketua DPD Wahdah Islamiyah Bombana)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here